Meskipun Stok Menumpuk, Dua Pengusaha Aftermarket Ini Ogah ‘Cuci Gudang,’ Ini Alasannya!

Muhammad Rizqi Pradana - Minggu, 10 Mei 2020 | 14:59 WIB

Deretan head unit terbaru dan audio dari Kramat Motor (Muhammad Rizqi Pradana - )

GridOto.com - Kelebihan stok adalah salah satu masalah yang dihadapi para pelaku industri Indonesia saat pandemi Covid-19 atau virus Corona ini, termasuk industri otomotif Indonesia.

Untuk mengatasi hal tersebut, tidak sedikit yang mengadakan ‘clearance sale’ (cuci gudang) alias menjual stok lama mereka dengan harga yang sangat murah.

Meskipun dapat mengurangi stok barang lama yang menumpuk, Ayong Jeo selaku Ketua Gabungan Aftermarket Otomotif Indonesia (GATOMI) tidak sependapat.

“Menurut saya kurang tepat kalau melakukan clearance sale saat ini,” ujarnya di acara NgoVi ke-16 bertajuk ‘Strategi Bertahan Aftermarket Audio, Suku Cadang, dan Perawatan Otomotif’ kemarin (9/5/2020).

Baca Juga: Edukasi Konsumen Melalui Platform Digital, Jadi Jurus Pengusaha Aftermarket Ini Selama Pandemi Covid-19

GridOto.com
Ayong Jeo saat menjadi narasumber di acara NgoVi ke-15 yang diadakan OTOMOTIF Group bertajuk Strategi Bertahan Aftermarket Audio, Suku Cadang dan Peratawatan Otomotif.

Pria yang juga CEO PT Kramat Motor, perusahaan spesialis audio dan multimedia mobil itu mengatakan, konsumen yang masih berniat membeli barang saat ini adalah para penghobi yang tidak begitu peduli dengan harga.

Hal tersebut diamini oleh Suhendra Hanafiah, selaku Wakil Ketua GATOMI pada kesempatan yang sama.

“Kami jual murah pun belum tentu para konsumen akan membeli produk atau merek kami, jadi murah saja tidak bisa diharapkan,” ucap Suhendra.

Baca Juga: Hino Perpanjang Penghentian Produksi Sementara di Pabriknya, Umbar Promo Aftersales Bagi Para Konsumen

GridOto.com
Suhendra Hanafiah saat menjadi narasumber di acara NgoVi ke-15 yang diadakan OTOMOTIF Group bertajuk Strategi Bertahan Aftermarket Audio, Suku Cadang dan Peratawatan Otomotif.

Pria yang juga Brand Manager PT Sarana Berkat, distributor resmi PIAA dan Hella mengatakan, menjual barang mereka lewat online marketplace pun tidak bisa dijadikan tumpuan.

Apalagi jika harus bersaing dengan banyak toko-toko online yang biasa menjual barang dengan harga jauh lebih murah.

“Kalau sudah hobi, konsumen bayar Rp 18 juta pun dia mau, tapi kalau konsumen awam yang mencari harga termurah belum tentu mau (meskipun sudah diskon),” tukasnya.

Baca Juga: Efek Pandemi Covid-19, Showroom Mobil Premium Ini Akui Penjulannya Terjun Bebas, Mobil Baru dan Bekas Sama Saja

Oleh karena itu, Ayong mengatakan pihaknya lebih memilih untuk mengedukasi konsumen dibandingkan mengumbar diskon.

Lebih tepatnya, edukasi agar para konsumen penghobi tadi dapat memasang sendiri produk-produk yang mereka jual di rumah masing-masing.

"Jadi kami buatkan video untuk produk yang plug and play, sehingga konsumen merasa terbantu dan mereka bisa memasangnya sendiri,” pungkas Ayong.