Dicekik Aturan Baru, Pengusaha Angkot di Bogor Banting Setir Usaha Bengkel Sampai Jaga Warung

By , Senin, 13 Juli 2026 | 10:00 WIB

Ilustrasi angkot Bogor (Tribunnews.com)

GridOto.com - Dicekik aturan baru, kini para pengusaha angkot di Bogor, Jawa Barat banyak yang banting setir usaha baru, mulai bengkel sampai jaga warung.

Itu semua semata-mata untuk tetap bisa menyambung hidup, karena armada tuanya kini sudah dilarang beroperasi.

Diketahui, berdasar Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 11 Tahun 2026 tentang Rasionalisasi, Peremajaan, dan Penghapusan Kendaraan Bermotor Umum dalam Trayek yang mulai berlaku Senin (15/6/26), angkot berusia di atas 20 tahun dilarang beroperasi.

Kondisi ini salah satunya dialami pengusaha angkot, Siti Fatimah (60), terpaksa mempensiunkan lima dari tujuh angkot yang ia miliki.

Agar tetap mendapat pemasukan, ia menyambi menjaga warung di Jalan Taman Cimanggu Tengah, Kota Bogor.

Sebab, pendapatan dari angkot kurang untuk memenuhi biaya hidup.

"Sekarang sopir sudah enggak dikasih narik, masa sebulan enggak ada setoran? Mobil harus diperbaiki, ganti oli. Jadi ibu jaga warung buat nyari tambahan," kata Siti Fatimah saat ditemui, (9/7/26) melansir Kompas.com.

Per hari, dia menargetkan Rp 100.000 bagi para sopir angkot.

Ia juga kerap memberikan uang tambahan kepada para sopir yang bekerja dengannya berupa uang untuk berobat, Tunjangan Hari Raya (THR), hingga bonus akhir tahun.

"Kalau mau tahun baru, mau puasa juga, kasih sembako, uang juga. Apalagi mau lebaran, THR. Sembako juga," terangnya.

Baca Juga: Ujung Pengabdian Angkot Tua Bogor, Regulasi Pemusnahan Armada di Atas 20 Tahun Resmi Berlaku

Siti Fatimah, salah satu pengusaha angkot Bogor yang kini alih profesi jaga warung karena armadanya sudah tua semua (Rahmat Hidayat/TribunnewsBogor.com)

"Kalau sekarang, kasih nasi juga setiap Jumat," kata dia.

Dia mengaku ikhlas, jika angkot tuanya terpaksa mengaspal dan terkena tilang lalu dicoret oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor.

"Ya enggak apa-apa bukan rezeki kita. Kita meninggal pun enggak bawa apa-apa ikutin aja aturan pemerintah. Rezeki kita ada di yang lain," kata dia.

Namun, menurut dia, penghasilan dari warung lebih besar dari pendapatan setoran angkotnya.

Sebab, setoran angkot biasanya langsung habis untuk melakukan perawatan kendaraan kembali.

"Sekarang Rp 1,2 Juta sampai Rp 1,3 Juta. Kalau lagi sepi paling Rp 800.000 sampai Rp 900.000. Lebih nutup daripada angkot," jelas dia.

Saat ini, angkotnya tersisa dua yang dianggap masih laik jalan karena keluaran tahun 2017.

Ia kini memperbaikinya di bengkel mobil di wilayah Pondok Rumput, Bogor.

Pengusaha angkot lainnya, Soleh (52), memiliki 12 unit transportasi umum itu.

Namun, dua unit di antaranya dijual ke tukang loak wilayah Parung dengan harga Rp 4 juta per unit.

Baca Juga: Ada Opsi Angkot Bogor Tak Layak Jalan Diubah Jadi Mobil Pikap, Tunggu Keputusan Wali Kota

Armada angkot Bogor milik salah satu pengusaha bernama Soleh banyak sudah berusia di atas 20 tahun (Regi Pratasyah Vasudewa/Kompas.com)

Uang dari hasil loak itu digunakan untuk menambah biaya hidup dan operasional bisnisnya.

Kini dirinya memiliki 10 unit angkot dengan keluaran tahun 1997 hingga 2005 dan masih beroperasi di jalur Pondok Rumput-Pasar Anyar.

Ia tak masalah jika angkot tuanya nanti dirazia karena melanggar peraturan.

"Kasihin aja (kalau kena razia), gimana lagi harus ngikutin pemerintah harus nurut aturan mau enggak mau ya," tutur Soleh saat ditemui, (9/7/26) dikutip dari Kompas.com.

Kalaupun angkotnya terjaring razia dan dikandangkan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor, ia masih memiliki bengkel mobil untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Meski pendapatan dari bengkel mobilnya tidak menentu karena tergantung pelanggan yang datang.

Jika sedang ramai, Soleh dapat memperoleh Rp 200.000 per hari.

"Kalau sepi enggak dapet apa-apa, diem aja gitu," ujarnya.

Jika sedang sepi, Soleh hanya mengandalkan setoran dari para sopir angkot yang mengaspal sekitar Rp 100.000 per hari.

Namun, kini para sopir hanya membawa setoran Rp 25.000 sampai Rp 40.000 per hari dikarenakan sepinya penumpang.

Baca Juga: Bandel, 16 Angkot Tua Bogor Berakhir Dicoret-coret Cat Semprot Dishub

Berbeda dengan masa jaya angkot, dia bisa mendapatkan pendapatan bersih Rp 100.000 per hari dari para sopir.

"Bisa kebutuhan rumah bisa kebeli apa aja ada lebihnya itu bisa beli apa aja waktu itu istri kan (pegang uang) saya mah. Sekarang mah hancur usaha angkot," ujar dia.

Ia pun meminta Pemkot Bogor untuk membeli unit angkotnya dengan harga Rp 20 sampai Rp 25 Juta guna mengembangkan bengkelnya.

"Ya harapan memang Ini mah Wali Kota kan bayarin aja angkotnya mau Rp 20 juta, Rp 25 juta. Jadi enggak ngerugiin ini yang pengusaha. Buat usaha lain pengin saya jual beli mobil kalau enggak ngegedein bengkel," jelasnya.

Sementara Kepala Bidang Angkutan, Dishub Kota Bogor, Dody Wahyudin mengungkapkan, pemerintah tidak memberikan bantuan kepada para pengusaha angkot.

"Di Perwali 11 Tahun 2026 kalau misalnya mereka mau masih melanjutkan usahanya silakan direduksi," ujar Dody saat dihubungi menukil Kompas.com.

Jika para pengusaha tidak lagi berminat melanjutkan usaha angkot, mereka dapat menentukan nasib kendaraannya sendiri.

"Kalau misalnya enggak lagi usaha, mereka mungkin dibesituakan atau mungkin diubah bentuk gimana pengusaha," lanjut dia.

Sebagai informasi, Pemkot Bogor mencatat terdapat 2.679 angkot pada seluruh trayek di Kota Bogor.

Namun, sebanyak 1.780 angkot tua yang berusia 20 tahun maupun lebih sudah resmi berhenti beroperasi sekitar 213 unit.

Saat ini, angkot tua di Kota Bogor masih tersisa 1.567 yang akan diberhentikan sampai akhir tahun.

Sedangkan, angkot yang berusia di bawah 20 tahun sebanyak 899 unit dan masih diperbolehkan mengaspal.