Fenomena tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap Biosolar subsidi kini menjadi salah satu faktor utama yang menentukan minat konsumen terhadap mobil diesel bekas.
Meski demikian, Ricky menilai prospek pasar mobil diesel masih tetap ada. Hanya saja, tingginya harga solar nonsubsidi membuat banyak calon pembeli berpikir dua kali karena biaya operasional yang semakin besar.
"Sebenarnya kalau potensi sih masih ada ya, tapi mereka (konsumen) rada berat untuk isinya. Sekali ngisinya kan lumayan gitu,” ucap Ricky.
“Jadi mereka mau beli, cuma ya mungkin lihat ya kalau harga BBM bisa turun ya mungkin masih oke. Turunnya di bawah Rp 20.000 (per liter) lah, kalau Rp 25.000 (per liter) berat banget," katanya.
Menurut Ricky, bahkan konsumen dengan daya beli tinggi pun tetap mempertimbangkan efisiensi biaya operasional sebelum membeli mobil diesel.
Ia menilai, selama harga BBM diesel nonsubsidi masih bertahan di level tinggi, pasar mobil diesel bekas akan tetap menghadapi tantangan.
Seperti diketahui, harga BBM diesel bervariasi tergantung jenis dan wilayah, dengan Biosolar subsidi tetap di angka Rp 6.800 per liter.
Baca Juga: Tips Mobil Diesel Pakai Biosolar B50 Biar Enggak Gampang Rusak
Adapun untuk BBM diesel nonsubsidi, Pertamina mematok Dexlite Rp 19.300 per liter dan Pertamina Dex Rp 21.150 per liter.
"Meskipun orang yang mampu pun, mereka berpikir kalau saya bisa yang murah kenapa yang mahal gitu. Saya kan punya opsi nih untuk yang murah nih, ngapain mesti yang mahal," kata Ricky.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR