GridOto.com - Persaingan mobil listrik di Indonesia semakin memanas setelah banyak merek asal China meramaikan pasar dalam dua tahun terakhir.
Meski begitu, PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) mengaku tidak gentar menghadapi kompetisi yang semakin ketat.
Chief Operating Officer (COO) HMID, Fransiscus Soerjopranoto, mengatakan kehadiran berbagai merek China memang membuat persaingan semakin ramai.
Namun, Hyundai memiliki modal sebagai pionir kendaraan listrik di Indonesia.
"Kalau kita lihat 2025-2024 dengan masuknya mobil-mobil Chinese EV, seakan-akan Hyundai turun posisinya berkompetisi dengan kendaraan-kendaraan Chinese atau Chinese OEM," ujar Fransiscus di SCBD, Kamis (3/7/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa Hyundai merupakan salah satu pabrikan yang lebih dulu mengembangkan pasar kendaraan listrik nasional.
"Tapi jangan lupa bahwa Hyundai itu adalah pemain awal atau first mover di dalam pasar listrik di Indonesia," tegasnya.
Fransiscus memastikan HMID tidak akan tinggal diam menghadapi derasnya serbuan produk baru dari para kompetitor.
Strategi yang disiapkan adalah terus menghadirkan model-model baru sesuai kebutuhan konsumen Indonesia.
Baca Juga: Hyundai Ioniq V Nongol di China, Sekali Cas Mampu Tempuh 650 Km
"Jadi, Hyundai pastinya akan terus memperkenalkan produk-produk baru," lanjutnya.
Di sisi lain, Fransiscus juga menilai potensi industri otomotif Indonesia masih sangat besar.
Menurutnya, pasar domestik pernah mencapai angka sekitar satu juta unit per tahun, sementara saat ini masih berada di kisaran 780 ribu hingga 800 ribu unit.
"Tadi kan saya sampaikan bahwa Indonesia sendiri sudah pernah angkanya di 1 juta secara pasar atau market. Nah sekarang baru sekitar 780 sampai dengan 800 ribu unit," kata Fransiscus.
Ia menambahkan, kapasitas produksi industri otomotif nasional bahkan sudah mencapai sekitar 2,5 juta unit per tahun.
Dengan kapasitas tersebut, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga berpeluang menjadi basis produksi untuk ekspor.
"Kemampuan produksi kita ada di angka 2,5 juta. Jadi kemampuan produksi itu bisa kita pakai bukan hanya untuk penjualan domestik, tapi juga untuk penjualan ekspor," tutupnya.
| Editor | : | Hendra |
KOMENTAR