Sejak menggantikan kelas 250 cc pada 2010, Moto2 menggunakan mesin standar, awalnya dari Honda dan sejak 2019 beralih ke Triumph.
Bedanya, Moto2 masih memberi kebebasan bagi beberapa produsen sasis.
Lalu mengapa Moto3 tidak menerapkan sistem serupa?
Ezpeleta menegaskan, tujuan utama perubahan ini adalah menjaga biaya tetap terkendali agar jalur pembinaan menuju MotoGP semakin sehat.
"Pengalaman kami menunjukkan bahwa Moto2 dan Moto3 ada untuk menghasilkan balapan yang menarik sekaligus membina talenta menuju MotoGP," kata Ezpeleta.
"Untuk mencapai tujuan itu, biaya harus dikendalikan. Cara paling efektif adalah menggunakan satu pemasok." tambahnya menukil Crash.net.
Ia menambahkan, kerja sama dengan Yamaha tidak berarti pabrikan yang selama ini terlibat, seperti Honda dan KTM, harus menghentikan program pembinaan pembalap muda mereka.
Baca Juga: Epik! Kiandra Ramadhipa Sabet Podium Tertinggi di Moto3 Estoril, Ukir Rekor Langka Nih
"Mereka tetap bisa menjalankan program pembinaan seperti sekarang. Hanya saja, bukan berarti mereka harus menjadi pembuat motornya," ujarnya.
Menurut Ezpeleta, persaingan antarprodusen justru membuat biaya terus meningkat.
"Pengalaman membuktikan bahwa ketika ada persaingan antar pabrikan, berapa pun skala kompetisinya, biaya akan terus naik. Karena itu sejak awal keputusan menggunakan satu pemasok sudah sangat jelas bagi kami."
Ia juga yakin status Moto3 sebagai kelas Kejuaraan Dunia tidak akan berkurang meski memakai motor yang sama.
"Sama sekali tidak," tegas Ezpeleta.
"Saat Moto2 menggantikan kelas 250cc pada 2010, tidak ada yang menganggap Moto2 hanya sebagai ajang one-make cup. Meski menggunakan mesin yang sama, para pembalap tetap memperebutkan gelar juara dunia, dan Moto3 juga akan tetap seperti itu."
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR