Sektor penyerapan utamanya meliputi kendaraan angkutan otomotif, alat berat, transportasi laut, perkeretaapian, industri pertambangan, alat mesin pertanian (alsintan), hingga pembangkit listrik.
Nah, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Alistiani Dewi, juga memantau langsung implementasi awal penggunaan B50 pada lokomotif kereta api CC 206 di PUK Lempuyangan, Yogyakarta, pada 27 April lalu.
Menukil KompasTV, Kementerian ESDM menyatakan hasil pengujian berkisar antara 80 persen hingga 90 persen menunjukkan indikator performa yang baik.
Karakteristik B50 dinilai memiliki kandungan air yang lebih sedikit dan lebih bersih dibandingkan dengan varian B40.
Selain itu, implementasi mandatori B50 diproyeksikan membawa stabilitas ekonomi domestik yang signifikan melalui pengurangan ketergantungan pada pasar energi global.
Kementerian ESDM mencatat bahwa pemberlakuan B50 di semester kedua tahun 2026 berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun (sekitar 9,18 miliar dolar AS) dengan cara memangkas impor bahan bakar fosil.
Baca Juga: BBM B50 Makin Dekat, Kendaraan Hingga Alat Berat Mulai Jalani Pengujian
Kebijakan ini ditargetkan mampu menghentikan impor solar jenis C48 secara drastis melalui pengurangan konsumsi solar fosil hingga sekitar 4 juta kiloliter per tahun.
Selain penghematan impor, program ini diperkirakan memberikan nilai tambah bagi industri kelapa sawit nasional sebesar Rp24,68 triliun serta menyerap lebih dari 2,2 juta tenaga kerja di sepanjang rantai pasok hulu hingga hilir.
Dari aspek keberlanjutan lingkungan, pemanfaatan bahan bakar berbasis kelapa sawit ini diproyeksikan mampu menurunkan emisi karbon nasional hingga mencapai 46,72 juta ton setara CO2.
Berdasarkan skema yang dipersiapkan oleh Kementerian ESDM, harga jual Biodiesel B50 ke masyarakat diindikasikan berada di kisaran Rp6.800 per liter.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR