Sehingga ketika dihadapkan pada situasi darurat yang membutuhkan manuver refleks, seperti menghindari lubang atau kendaraan lain yang memotong jalan, kemudi akan tertahan oleh tubuh anak, sehingga kecelakaan menjadi sulit dihindarkan.
Selain itu ada juga risiko dari segi kesehatan jika anak terbiasa dibonceng di bagian depan motor.
"Paru-paru mereka harus bekerja ekstra keras menyaring debu serta gas beracun dari knalpot kendaraan lain. Kondisi ini membuat anak-anak sangat rentan mengalami dehidrasi parah serta gangguan pernapasan akut (ISPA)," imbuhnya.
Meski demikian, tak bisa dipungkiri pula bahwa keterbatasan secara ekonomi kerap membuat masyarakat terpaksa membawa anak bepergian menggunakan motor.
Karena itu Oke mencoba memberikan solusi sebagai kompromi antara kebutuhan dan juga keselamatan berkendara.
Jika terpaksa bepergian bersama anak, Oke mengingatkan untuk selalu mematuhi panduan keselamatan standar.
"Anak wajib duduk di jok belakang, tepat di belakang pengendara dengan kaki yang sudah mampu menapak mantap pada pijakan kaki. Anak juga wajib memakai helm SNI khusus anak, jaket, celana panjang, dan sepatu," jelas Oke.
Terakhir Oke mengingatkan untuk sebisa mungkin menggunakan motor dengan semestinya demi keselamatan, dimana motor dirancang hanya untuk satu pengendara dan satu penumpang.
"Liburan sekolah seharusnya menjadi momen untuk menciptakan kenangan indah bersama keluarga. Karena itu, selalu utamakan keselamatan saat berkendara. Jangan sampai keceriaan liburan berubah menjadi penyesalan akibat mengabaikan aspek keselamatan, terutama saat membawa anak," tutupnya.
| Editor | : | Dida Argadea |
KOMENTAR