Roberth menyatakan, Pertamax merupakan jenis BBM yang harganya jualnya mengikuti fluktuasi pasar.
Menurutnya, penetapan harga Pertamax adalah keputusan yang mempertimbangkan berbagai aspek, terutama pergerakan harga minyak dunia.
Pertamina sempat menahan harga Pertamax sejak 1 April 2026 sebesar Rp12.300 per liter, di tengah melonjaknya harga minyak dunia.
Keputusan itu merupakan hasil koordinasi Pertamina dengan pemerintah.
Namun demikian, penyesuaian akhirnya dilakukan pada 10 Juni 2026 dengan kini harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter.
"Penyesuaian harga jual Pertamax dalam rangka mengamankan daya beli dan ekonomi serta menyesuaikan agar beban fiskal pemerintah serta badan usaha tetap kondusif," kata Roberth.
Baca Juga: Kabar Pembatasan Pertalite Rp 50.000 Ramai Beredar, Pertamina Tegaskan Hal Ini
Roberth menerangkan, besaran harga Pertamax Rp16.250 per liter sebenarnya masih berada di bawah harga keekonomian atau harga pasar.
Dia menekankan, jika harga jual Pertamax sepenuhnya mengacu pada harga keekonomian, nilainya akan lebih tinggi dibandingkan harga Pertalite.
Namun demikian, Roberth tidak menyebutkan besaran harga Pertamax yang seharusnya.
"Apabila Pertamax mengacu harga keekonomian yang seharusnya, akan lebih mahal dari Pertalite tanpa subsidi,” tutur Roberth.
“Poin pentingnya adalah bahwa harga Pertamax saat ini ada peran pemerintah di dalamnya dan Pertamina,” sambungnya.
Menurutnya, penyesuaian harga BBM pada dasarnya tidak hanya dilakukan Pertamina, tetapi juga oleh badan usaha swasta lainnya karena memang mengikuti pergerakan harga pasar.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR