GridOto.com - Truk angkutan barang mulai menjadi perhatian dalam upaya menekan emisi sektor transportasi di Indonesia.
Meski jumlahnya hanya sekitar 4 persen dari total populasi kendaraan nasional, kontribusi emisi yang dihasilkan kendaraan niaga ini ternyata cukup besar.
Berdasarkan studi terbaru yang dirilis Institute for Essential Services Reform (IESR), truk menyumbang sekitar 31 persen emisi transportasi jalan atau setara 42,61 juta ton CO2e.
Angka tersebut berasal dari dominasi penggunaan truk sedang (medium-duty vehicle atau MDV) dan truk berat (heavy-duty vehicle atau HDV) yang menjadi tulang punggung distribusi logistik nasional.
Melalui kajian bertajuk Zero Emission Trucks in Indonesia A Policy and Regulatory Roadmap for Heavy and Medium Duty Freight, IESR menilai elektrifikasi truk menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi emisi sekaligus menekan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Chief Executive Officer IESR, Fabby Tumiwa, mengatakan dekarbonisasi angkutan barang perlu masuk dalam agenda prioritas transisi energi nasional.
“Dekarbonisasi truk angkutan barang perlu menjadi prioritas dalam agenda transisi energi Indonesia karena dampaknya sangat besar untuk penguatan daya saing ekonomi dan kemandirian energi nasional," kata Febby melalui keteranganya, Rabu (17/6/2026).
"Meskipun jumlahnya relatif kecil dibandingkan total kendaraan nasional, truk memiliki kontribusi emisi yang sangat besar, sekaligus menjadi tulang punggung logistik nasional,” sambungnya.
Menurut hasil pemodelan IESR, penerapan 100 persen truk tanpa emisi (zero emission truck atau ZET) pada 2060 berpotensi menurunkan kebutuhan energi akhir hingga 78 persen dibandingkan skenario bisnis seperti biasa (business as usual).
Baca Juga: Lihat Motor Tak Dikunci, Sopir Truk Awal Cuma Lewat Mendadak Jadi Pelaku Kriminal
Selain itu, emisi gas buang kendaraan dapat ditekan hingga 99 persen.
Dari sisi efisiensi energi, truk listrik disebut 62–87 persen lebih efisien dibandingkan truk diesel konvensional.
Tak hanya berdampak pada lingkungan, peralihan ke truk listrik juga dinilai mampu mengurangi beban subsidi dan kompensasi BBM yang selama ini ditanggung pemerintah.
Kepala Kebijakan Transisi dan Dekarbonisasi IESR, Ilham Rizqian Fahreza Surya, menyebut setiap unit truk listrik yang beroperasi diperkirakan dapat mengurangi beban subsidi dan kompensasi sekitar Rp 21 juta per tahun pada 2030.
Nilai tersebut bahkan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar Rp 50 juta per unit per tahun pada 2060.
“Transisi menuju truk tanpa emisi tidak hanya relevan dari sisi lingkungan, tetapi juga dari sisi ekonomi dan fiskal. Elektrifikasi truk dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada diesel, menekan risiko fluktuasi harga minyak global, serta membuka ruang fiskal yang lebih besar untuk pembangunan,” kata Ilham.
Di sisi lain, Kementerian Perhubungan juga tengah menyiapkan peta jalan dekarbonisasi dan transisi energi sektor transportasi.
Plt. Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan Kementerian Perhubungan, Reza Hertantyo, menjelaskan kebijakan yang disiapkan mencakup penerapan standar emisi Euro 4, pengembangan biodiesel, percepatan elektrifikasi kendaraan komersial, hingga implementasi kebijakan Zero ODOL (Over Dimension Over Loading).
“Peta jalan ini akan memuat baseline emisi, target dan potensi pengurangan emisi, proyeksi bauran energi, serta strategi dekarbonisasi transportasi yang dapat menjadi rujukan bagi pemangku kepentingan dalam mempercepat transisi menuju sistem transportasi yang lebih bersih dan berdaya saing,” jelas Reza.
Baca Juga: DCVI Gandeng Karoseri Metalindo Teknik Utama, Bangun Truk Mercedes-Benz Beragam Model
Untuk mempercepat adopsi truk listrik, IESR merekomendasikan beberapa langkah, mulai dari penerapan standar efisiensi bahan bakar yang lebih ketat, pemberian insentif bagi produsen yang membawa model truk listrik ke Indonesia, hingga pembangunan jaringan stasiun pengisian daya di koridor logistik utama.
Dalam kajian tersebut, kebutuhan awal hingga 2030 diperkirakan memerlukan titik pengisian daya berkapasitas 230 kW yang tersebar di sedikitnya 27 lokasi strategis di Pulau Jawa dan Sumatera.
Dengan dukungan regulasi, infrastruktur, dan skema pembiayaan yang tepat, elektrifikasi truk diyakini bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan efisiensi sektor logistik sekaligus membantu pencapaian target pengurangan emisi nasional.
| Editor | : | Hendra |
KOMENTAR