GridOto.com - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai berpotensi memberi tekanan terhadap industri pembiayaan kendaraan atau multifinance.
Pasalnya, kenaikan kurs dolar dapat berdampak pada harga kendaraan yang masih menggunakan sejumlah komponen impor.
Kondisi tersebut dikhawatirkan turut meningkatkan risiko kredit bermasalah atau non-performing financing (NPF) di sektor pembiayaan kendaraan.
Seperti diketahui, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar AS.
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya OJK, Agusman, mengatakan pelemahan rupiah dapat memengaruhi permintaan pembiayaan kendaraan di tengah potensi kenaikan harga jual kendaraan.
Menanggapi kondisi tersebut, Sigit Rezhatama selaku Regional Branch Manager New Car 1 Jabo Adira Finance mengatakan, potensi kredit macet sebenarnya sudah menjadi bagian dari siklus tahunan industri pembiayaan.
“Kalau bisa dibilang, kredit macet itu sudah suatu hal yang terjadi setelah siklus tahunan,” ujar Sigit kepada GridOto.com di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (18/5/2026).
Ia mencontohkan, saat pandemi Covid-19 lalu banyak konsumen mengalami kendala pembayaran cicilan.
Namun perusahaan saat itu mengambil langkah restrukturisasi untuk membantu konsumen tetap menjalankan kewajibannya.
Baca Juga: Toyota Astra Financial Angkat Bicara Soal Kredit Macet Jelang Hari Raya
“Ketika pada saat Covid itu banyak beberapa konsumen yang macet tapi kita melakukan penawaran, yaitu restrukturisasi,” jelasnya.
| Editor | : | Hendra |
KOMENTAR