Agus menjelaskan, industri cat di Indonesia pada umumnya masih mengandalkan bahan baku impor.
Pabrikan dalam negeri umumnya hanya melakukan proses pencampuran (mixing), sementara bahan utama seperti resin, pigmen, dan solvent masih didatangkan dari luar negeri.
"Bahan baku cat hampir semuanya masih impor. Di Indonesia rata-rata pabrik cat hanya mixing. Kecuali extender seperti calcium carbonate, itu sudah bisa diproduksi lokal. Tapi resin, pigmen, dan solvent masih impor," ungkapnya.
Sebagai informasi, kenaikan harga plastik di Indonesia turut dipicu oleh tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Konflik tersebut mengganggu distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.
Terganggunya pasokan minyak mentah berdampak langsung ke industri petrokimia, termasuk produksi bahan baku plastik dan komponen kimia yang digunakan dalam industri cat.
Akibatnya, harga cat otomotif pun ikut terkerek di tengah naiknya biaya produksi.
| Editor | : | Dida Argadea |
KOMENTAR