GridOto.com - Salah satu negara berikut ini sengaja mempersulit pengurusan pelat nomor.
Pemerintah bakal membuat warganya yang baru saja membeli mobil bensin untuk antre pelat nomor selama 10 tahun.
Diketahui negara yang dimaksud adalah China, karena pemerintah di sana menerapkan aturan sangat ketat untuk menekan polusi salah satunya melalui pembatasan kuota pelat nomor.
Afung seorang pemandu sekaligus penerjemah di Guangzhou mengatakan, proses mendapatkan izin jalan untuk mobil bensin bisa memakan waktu bertahun-tahun melalui sistem undian atau lelang yang kompetitif.
"Kalau kita mau beli mobil bensin susah, antre, mungkin bisa 10 tahun enggak bisa (dapat) nomor pelatnya. Tidak ada nomor pelat, tidak boleh beli mobil," kata Afung di Guangzhou, China, (21/4/26) dikutip dari Kompas.com.
"Tapi kalau energi baru gampang. Karena beberapa tahun ini, mobil listrik ini belum dicabut politiknya untuk mendukung," ucap Afung.
Selain kemudahan administrasi, faktor harga juga menjadi penentu.
Pemerintah China memberikan subsidi langsung yang membuat harga jual mobil listrik menjadi lebih kompetitif dibandingkan mobil bensin.
"Semuanya ada subsidi. Kita beli mobilnya juga dapat subsidi dari pemerintah. Tapi kalau beli bensin tidak ada subsidinya," pungkasnya.
Dengan kombinasi kebijakan pelat nomor dan subsidi yang masif, tak heran jika ekosistem kendaraan listrik di China berkembang sangat pesat.
Baca Juga: Unik, Wujud Pelat Nomor Sementara Mobil dan Motor Baru di Negara China Sesimpel Ini
Saat ini China merupakan pasar terbesar mobil listrik global. Negara ini juga jadi salah satu kiblat baru bagi industri otomotif di era elektrifikasi.
Diketahui, untuk membedakan mobil listrik dan bensin, pemerintah China menggunakan perbedaan warna pelat nomor.
Di China, warna pelat menjadi identitas utama untuk membedakan jenis mesin yang dipakai.
Afung, menjelaskan sistem ini mempermudah identifikasi kendaraan ramah lingkungan.
"Kalau pelat hijau itu energi baru (new energy vehicle), listrik. Kalau biru dan kuning bensin (ICE)," kata Afung.
"Makanya kalau kita lihat di Guangzhou taksi 100 persen pasti ialah yang pakai baterai (listrik) tidak ada bensin lagi," ujar Afung
Popularitas mobil listrik di Negeri Tirai Bambu ini tidak terjadi begitu saja.
Ada peran besar pemerintah yang memberikan 'karpet merah' bagi masyarakat yang ingin beralih dari mobil konvensional ke mobil listrik.
Menurut Afung, kebijakan ini cukup merata di berbagai wilayah, tidak hanya terbatas di kota besar seperti Guangzhou.
Faktor utamanya adalah kemudahan dalam mendapatkan legalitas kendaraan dan dukungan finansial.
Baca Juga: Ada BBM Baru, Ilmuwan China Temukan Cara Olah Emisi Karbondioksida Jadi Bensin
"Bukan cuma di Guangzhou, di setiap kota, mobil yang pakai energi baru sudah sangat populer, pertama karena ini ada hubungan dari pemerintah semuanya beli ada subsidi dan gampang dapat nomor pelatnya," katanya.
Menurut Afung masyarakat yang ingin membeli mobil listrik akan dipermudah mendapat pelat nomor.
Sebaliknya, jika ingin membeli mobil bensin akan dipersulit.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR