Menurut Tjung, kenaikan harga tersebut membuat konsumen kini jauh lebih berhati-hati sebelum memutuskan membeli mobil bekas.
Terutama yang dikenal memiliki konsumsi BBM tinggi.
“Kenaikan harga BBM membuat konsumen menjadi lebih berhati-hati dalam membeli kendaraan," jelas Tjung.
Mobil dengan konsumsi BBM yang cenderung boros biasanya mengalami penurunan minat, sehingga perputaran unit di segmen tertentu bisa melambat.
Segmen yang paling terasa terdampak adalah mobil diesel yang wajib menenggak solar nonsubsidi, khususnya di kelas menengah ke atas.
Beberapa model seperti Toyota Fortuner Diesel, Toyota Kijang Innova Reborn Diesel, Mitsubishi Pajero Sport, Isuzu MU-X, hingga Chevrolet Captiva Diesel mengalami penurunan permintaan.
“Karena kenaikan harga solar nonsubsidi saat ini sangat tinggi, bahkan mendekati 70 persen, biaya operasional kendaraan diesel otomatis melonjak tajam," ungkapnya.
Kondisi ini membuat sebagian konsumen mulai menghitung ulang pengeluaran bulanannya dan berpotensi menunda pembelian mobil diesel bekas..
Tjung menambahkan, pasar mobil bekas secara umum masih tetap bergerak.
Hanya saja, konsumen kini semakin selektif dan cenderung mengincar kendaraan yang lebih efisien dari sisi konsumsi BBM serta biaya perawatan.
“Permintaan terhadap mobil bekas yang irit bahan bakar, biaya perawatan rendah, dan value for money tetap cukup baik di pasar,” tutupnya.
Untuk kategori mobil bensin, jenis City Car dan Low Cost Green Car (LCGC) tetap menjadi favorit.
Kemampuannya dalam mengolah bahan bakar secara efisien menjadikannya pilihan utama bagi masyarakat yang membutuhkan kendaraan harian namun tetap ingin menjaga dompet dari "cekikan" harga BBM.
| Editor | : | Hendra |
KOMENTAR