GridOto.com - Pasar lampu aftermarket ternyata tidak secerah cahayanya. Ada tekanan penjualan yang cukup kencang di tahun 2025 pada komponen penerang jalan ini.
Beberapa produsen menyebutkan kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga tahun ini.
“Sepertinya belum ada sinyal positif ya,” ungkap Suhendra Hanafiah, Brand Manager PIAA, Sumber Berkat Group.
Denny Hartono, Chief Executive Officer PT Duromoto Jaya Indonesia, pemilik produk Duromoto mengungkapkan, sepanjang 2025 tren penjualan sempat mengalami penurunan dibandingkan 2024.
“Awal 2026 ini sudah ada peningkatan dibandingkan tahun lalu dan kami harapkan bisa terus naik sampai akhir tahun,” jelas Denny.
Basuki Dwi Suksmono, Business Development Manager lampu Philips, menegaskan pihaknya kini fokus pasar di segmen mobil harian dan motor.
“Masih menjadi tulang punggung untuk saat ini,” ucapnya.
Terkait alasan konsumen melakukan upgrade lampu, Basuki menyebut faktor keamanan lebih dominan dibanding sekadar tampilan.
Baca Juga: Bukan Soal Harga, Duromoto Blak-blakan Soal Tantangan Jual Lampu Aftermarket
“Betul sekali jadi safety dan visibility,” katanya.
Suhendra mengatakan pasar tahun 2025 lalu turun cukup signifikan, berada di kisaran 30 persen dibanding tahun 2024.
“Penurunan ini bukan sekadar adanya penurunan penjualan mobil pada tahun lalu ya,” jelas pria yang berkantor di Kawasan Jakarta Pusat ini.
Ia menilai ada beberapa hal yang menjadi penyebab penurunan penjualan ini. “Utamanya soal pola penggunaan kendaraan,” jelasnya.
Menurutnya, mobilitas masyarakat saat ini berkurang mobilitas dengan menggunakan kendaraan pribadi.
“Penggunaan kendaraan berkonsekuensi, pada masa pakai lampu yang semakin lama. Sehingga kebutuhan untuk membeli produk berkurang,” jelasnya.
Pola penggunaan kendaraan di waktu malam juga ikut mempengaruhi masa pakai bohlam lampu. “Saya melihat saat ini, penggunaan mobil di waktu malam juga punya kecenderungan berkurang. Ini juga pengaruh ke masa pakai bohlam,” jelasnya.
Seperti diketahui masa pakai bohlam dihitung dari jam pakai.
Baca Juga: Autovision Bicara Peluang Pasar Lampu Aftermarket, Dari BiLED hingga Lampu Tembak
Untuk bohlam lampu Halogen masa pakainya hanya berkisar 500 hingga 1.000 jam, bohlam Xenon/HID usianya lebih lama yang berkisar 2.000 hingga 10 ribu jam, sementara LED merupakan jenis lampu yang paling lama usianya.
Sementara dari sisi harga tentu saja, Halogen lebih murah dibanding HID. Untuk lampu LED merupakan varian dengan harga paling mahal. (Wisnu, Isal, Adam, Hend)
Kode Soket Lampu
Perlu dipahami ketika membeli lampu utama (headlamp), ditentukan oleh tipe soket yang digunakan.
Jadi memang agak berbeda dengan komponen lain yang umumnya merujuk pada tipe kendaraan.
"Untuk bohlam sudah ada standar international ECE dengan menggunakan soket pada bawaan bohlam pabrikan," jelas Suhendra Hanafiah.
Suhendra menjelaskan setiap jenis soket memiliki karakteristik fisik yang spesifik dan tidak dapat ditukar satu sama lain.
Dalam kode bohlam halogen ada kode soket H1, H3, H4, H7, Hingga H16. Ada pula dengan kode soket HB1, HB2, HB3 dan HB 4 serta R2.
Baca Juga: Baru Paham Nih, Beli Bohlam Lampu Depan Mobil Cek Kode Soketnya
"Jadi, biasanya penjual toko akan menyebutkan kode tersebut untuk tiap kendaraan," ulas Suhendra.
Misalkan untuk kendaraan sejuta umat Toyota Avanza akan sama dengan Daihatsu Xenia. "Tipe kendaraan tersebut menggunakan kode H4 dengan tiga kaki. Untuk lampu jauh sekaligus dekat dalam satu bohlam," ulas Suhendra.
Sementara untuk mobil-mobil tahun baru menggunakan dua bohlam yang berbeda, untuk lampu jauh dan lampu dekat.
"Kode soketnya adalah HB3 dan HB4, HB3 untuk jauh, HB4 untuk dekat. Contohnya Toyota Fortuner atau Camry menggunakan soket ini," sebutnya.
Jadi menurut Suhendra, konsumen hanya perlu menyebutkan merek, tipe dan tahun keluaran mobil saja ke penjual.
"Penjual pasti akan mencari bohlam yang sesuai dengan soket mobil yang diinginkan," tutupnya.
Lumen dan Kelvin Lampu
Pada pencahayaan sinar lampu utama mobil ada 2 indikator penting yang perlu diketahui pengendara. Kedua istilah itu adalah Lumen dan Kelvin.
Menurut Suhendra Hanafiah, konsumen perlu mempertimbangkan keduanya karena penting untuk kelayakan penggunaan penerangan kendaraan.
Baca Juga: Sebelum Beli Kenalan Dengan Istilah Sinar Lampu, Kelvin dan Lumen
"Istilah Lumen di dalam bohlam lampu adalah satuan yang mengukur ketebalan cahaya," jelas Suhendra.
Menurutnya semakin tinggi angka Lumen maka semakin padat cahayanya, sehingga semakin terang.
Sementara Kelvin merupakan ukuran untuk warna lampu.
Angka Kelvin yang tinggi tidak berarti lampu tersebut lebih terang, akan tetapi mengindikasikan warnanya bergeser dari kuning ke putih hingga kebiruan.
Untuk patokan cahaya lampu berwarna putih angka Kelvin dipakai dengan angka 6.000.
Semakin tinggi angkanya misalnya 7.000 Kelvin, 8.000 Kelvin maka cahaya berubah menjadi biru.
Semakin ke bawah semisal 5.000, 4.000 atau 3.000 akan semakin kuning.
"Untuk lampu kabut angka kelvinnya paling rendah yakni 2.500," jelas Suhendra.
Baca Juga: Jangan Sampai Keliru, Ini Bedanya Lampu LED, Mini Laser, dan Biled
Umumnya bohlam lampu untuk headlamp halogen di pasaran berkisar pada angka 1.500-2.000 Lumen dengan angka kelvin di kisaran 3.000-3.500.
"Angka segitu sesuai dengan regulasi internasional. Mereka tidak merekomendasikan lampu itu cahayanya putih. Alasan keamanan terlebih pada saat hujan atau jalan basah," tutup Suhendra.
LED, BiLED, Laser dan Mini Laser
Selain bohlam halogen, di pasaran juga banyak tipe lain. Yang sering terkenal disebut antara lain ada LED, BiLED, laser dan mini laser. Nah apa sih bedanya?
Lampu-lampu tersebut pasti sering banget didengar, khususnya di bengkel modifikasi khususnya spesialis lampu.
Lalu apa sebenarnya perbedaan dari masing-masing jenis tersebut?
Denny Hartono menjelaskan, bahwa itu semua merupakan bagian dari evolusi teknologi pencahayaan kendaraan hingga akhirnya masuk ke era LED (Light Emitting Diode).
“Kalau awal dulu kan lampu pijar, terus ada halogen, terus LED. Nah LED ini jenisnya juga macam-macam,” ujar Denny kepada OTOMOTIF, Senin (23/2/2026).
Baca Juga: Autovision Bicara Peluang Pasar Lampu Aftermarket, Dari BiLED hingga Lampu Tembak
Ia juga menjelaskan, pada dasarnya lampu LED saat ini bisa dibedakan dari konstruksi dan sistem optiknya.
Ada yang masih mengandalkan reflektor saja, ada yang sudah menggunakan lensa, hingga kombinasi reflektor dan mekanisme tambahan.
Untuk tipe yang hanya memakai lensa tanpa reflektor konvensional, di pasar aftermarket lebih dikenal sebagai mini laser.
“LED itu ada yang hanya reflektor, ada yang lensa saja, itu biasa disebut mini laser,” jelasnya.
Karakter mini laser, lanjut Denny, umumnya menghasilkan sorotan cahaya yang lebih fokus karena memanfaatkan proyektor lensa.
Pola tembakannya cenderung lebih terarah dibanding LED reflektor biasa.
Selain itu, ada juga jenis yang menurut Denny merupakan pengembangan dari konsep mini laser, namun dengan karakter cahaya menyerupai BiLED. Ia menyebutnya sebagai versi hybrid.
“Kalau yang pakai mangkok reflektor tapi tanpa solenoid, saya pribadi sebutnya hybrid. Low beam-nya pakai mangkok jadi cut off-nya seperti BiLED, tapi high beam-nya tanpa mangkok,” ujarnya.
Baca Juga: Tidak Bisa Dibandingkan, Ini Beda Lampu Tembak BiLED dan Mini Laser
Secara istilah, Denny mengakui belum ada penyebutan baku di industri untuk model tersebut.
“Saya sih sebutnya mini laser hybrid. Enggak ada penyebutan khusus sebenarnya, cuma menurut saya karena mini laser tapi cahayanya seperti BiLED,” tambahnya.
Sementara itu, BiLED (Bipolar LED) sendiri merupakan sistem yang menggunakan mangkok reflektor sekaligus solenoid.
Mekanisme solenoid ini berfungsi mengatur perpindahan antara low beam dan high beam dalam satu proyektor, sehingga distribusi cahaya bisa berubah secara mekanis.
“Kalau BiLED itu mangkok plus solenoid,” tegasnya.
Lebih lanjut Denny menjelaskan, lini produk lampu tambahan Duromoto saat ini tersebar di kategori mini laser dan hybrid.
Untuk tipe mini laser, tersedia model X3 dan X1ME. Sementara di kategori hybrid ada MB1 dan dalam waktu dekat akan menyusul MB3.
“Yang mini laser ada X3 sama X1ME. Yang hybrid ada MB1, nanti ada MB3,” sebutnya.
Baca Juga: Osram Berkolaborasi Dengan Duromoto Hadirkan Dua Lampu Tembak Biled
Untuk produk BiLED murni, Duromoto saat ini belum memilikinya dalam lini reguler.
Namun, perusahaan memiliki produk hasil kolaborasi dengan Osram yang sudah mengusung teknologi BiLED sekaligus memiliki fitur waterproof.
“Yang BiLED kami belum ada sendiri. Adanya produk kolaborasi dengan Osram, itu yang murni BiLED waterproof,” pungkas Denny.
Jadi secara simpel perbedaan utama pada keempat lampu ini terletak pada teknologi optik dan pola cahayanya.
Pertama LED adalah dioda pemancar cahaya dasar, kemudian BiLED adalah LED dengan lensa proyektor untuk cut-off rapi sehingga anti silau.
Sedangkan, mini laser adalah lampu tembak fokus tinggi dengan lensa kecil, kemudian laser (diode) menghasilkan cahaya intensitas tinggi terfokus.
Cahaya yang dihasilkan BiLED akan lebih menyebar, sementara mini laser sangat terfokus. (Wisnu).
Artikel ini telah tayang di Tabloid OTOMOTIF Edisi 43-XXXV 5 Maret 2026
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR