"Kami berharap krisis Timur Tengah segera berakhir agar ekonomi dunia kembali normal," tuturnya.
Baca Juga: Harga Pertamax Turbo dan Solar Non Subsidi Melambung Hingga Rp 9.400
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan kenaikan BBM nonsubsidi di Indonesia sejalan dengan dinamika global akibat konflik AS, Israel, dan Iran.
Dia mengatakan, Indonesia bukan satu-satunya negara yang merespons kondisi tersebut dengan menaikkan harga BBM nasionalnya.
Sejumlah negara tetangga bahkan sudah lebih dulu menaikkan harga BBM dengan besaran yang cukup tinggi.
"Kita memahami penyesuaian harga BBM nonsubsidi merupakan bagian dari mekanisme yang mengikuti dinamika harga minyak dunia dan nilai tukar, sehingga ini merupakan respons terhadap kondisi pasar global," ujarnya, sebagaimana dilansir Kompas.com, (18/4/26).
Anggia juga menggarisbawahi kenaikan harga BBM di Indonesia hanya berlaku untuk BBM nonsubsidi.
Sebaliknya, BBM subsidi, seperti Pertalite dan Solar Subsidi tidak naik. Bahkan harga Pertamax 92 dan Pertamax Green 95 juga tetap stabil.
Pemerintah memastikan, harga BBM subsidi akan tetap stabil sampai akhir 2026 demi menjaga daya beli masyarakat Indonesia, khususnya pada kelompok rentan.
"Namun demikian sekali lagi, kita pasti bisa melewati kondisi ini dengan kerja sama dan dukungan dari masyarakat. InsyaAllah kita bisa survive," ucap Anggia.
Ke depannya, pemerintah melalui Pertamina akan terus memantau perkembangan harga minyak dunia dan berkoordinasi dengan pemerintah guna menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
| Editor | : | Dida Argadea |
KOMENTAR