GridOto.com - Kalau berbicara tentang mobil Cina, enggak jauh-jauh dari teknologi.
Selain harga, teknologi jadi daya tarik mobil Cina di Indonesia saat ini.
Oleh karena itu, berikut dua teknologi mobil Cina yang enggak ada lawan.
1. Advance Driving Assitance System (ADAS).
Teknologi ADAS pada mobil Cina sedang mengalami perkembangan pesat.
Mulai dari penggunaan sensor canggih seperti LIDAR, hingga yang paling kekinian dengan memanfaatkan artifical intelligent atau AI.
Seperti sistem canggih yang disematkan pada Changan Deepal S07 yang bernama Software Defined Architecture atau SDA intelligence.
Baca Juga: Changan Luncurkan Deepal SO5 REEV, Jarak Tempuh Tembus 1.200 Km
"Software Defined Architecture (SDA) intelligence ini merupakan transisi dari sistem keamanan pasif menjadi stabilisasi kendaraan proaktif yang digerakkan oleh AI," buka Setiawan Surya, CEO Changan Indonesia kepada GridOto.
Sistem canggih ini sudah diterapkan pada Changan Deepal S07.
"Software ini harus adaptif terhadap pengembangan situasi, zaman, apalagi kedepannya AI ini luar biasa sekali perannya," jelas Surya.
"Khususnya untuk masalah keamanan dan kenyamanan," paparnya saat ditemui beberapa waktu yang lalu (04/26).
Sistem ini membaca juga pola pengendara atau pengemudinya di jalan.
Baca Juga: Parade Chindo, Strategi Menangi Pasar Mobil Cina 'Bantai Harga '
2. Baterai
Selain ADAS, teknologi mobil Cina yang susah dilawan adalah baterai.
Seperti kita ketahui kalau pabrikan mobil Cina berlomba-lomba membuat baterai yang efisien.
Seperti Changan dan Baic yang memanfaatkan garam menjadi baterai sodium-ion.
Kemudian BYD yang mengembangkan blade battery gen-2.
Berdasarkan website resmi BYD, blade battery gen 2 ini dibekali dengan fitur pengisian daya yang cukup cepat.
Blade battery gen 2 diklaim dapat terisi dari 10 % hingga 70 % hanya dengan 5 menit saja.
Dengan masifnya pengembangan teknologi yang dilakukan produsen-produsen mobil asal Cina, tidak heran pasar yang sebelumnya dikuasai produsen asal Jepang dan Eropa, mulai terguncang.
| Editor | : | Mohammad Nurul Hidayah |
KOMENTAR