Fokus utama saat ini adalah penertiban kendaraan berat yang melintasi kawasan tersebut.
Agustina berharap ada sinergi yang lebih kuat di lapangan untuk memastikan kendaraan yang lewat benar-benar mematuhi ketentuan tonase.
"Maka kami tadi berkoordinasi dan mudah-mudahan nanti dari kepolisian dan Dinas Perhubungan lebih bisa menertibkan," ucapnya.
Agustina mengakui bahwa jalur Silayur merupakan urat nadi penting bagi aktivitas industri di wilayah sekitar.
Hal ini membuat penutupan jalur bagi truk bukanlah perkara mudah, sehingga pendekatan kolaboratif menjadi satu-satunya jalan keluar yang realistis saat ini.
Ia menekankan bahwa meskipun upaya kolaborasi sudah dilakukan berulang kali, kecelakaan masih kerap terjadi.
Hal ini menandakan perlunya komitmen ekstra dari para pengusaha transportasi yang armadanya melintasi jalur tersebut.
“Satu-satunya cara bagaimana? Kita kolaborasi Dinas Perhubungan, kepolisian dengan para pengusaha yang truknya lewat situ. Ini harus dikoordinasikan kembali. Sudah dikolaborasikan terus-menerus tapi tetap saja terjadi kecelakaan,” keluhnya.
Baca Juga: Cara Mudah Cegah Mobil Manual Mundur di Tanjakan yang Bikin Ladies Tenang
Turunan Silayur sendiri telah lama menyandang predikat black spot atau titik rawan kecelakaan di Kota Semarang.
Jejak kelam jalur ini tercatat berulang kali, termasuk insiden tragis pada akhir 2024 lalu yang merenggut nyawa dua warga.
Penanganan komprehensif kini menjadi tuntutan mendesak guna memutus rantai kecelakaan di jalur tengkorak Ngaliyan tersebut.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR