Pencapaian ini menempatkan JAECOO sebagai salah satu brand otomotif dengan pertumbuhan tercepat di dunia saat ini.
Menanggapi capaian ini, Business Unit Director JAECOO Indonesia, Jim Ma, mengatakan bahwa tren global tersebut juga mulai terlihat di Indonesia.
“Kami melihat minat terhadap kendaraan elektrifikasi maupun NEV terus meningkat, namun pada saat yang sama konsumen juga mencari solusi yang tetap praktis dan relevan dengan kebutuhan mereka. Di sinilah teknologi seperti SHS (Super Hybrid System) menjadi semakin penting, karena mampu menghadirkan efisiensi sekaligus fleksibilitas dalam penggunaan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan ini jadi salah satu faktor yang mendorong penerimaan JAECOO di berbagai pasar.
“SHS memungkinkan pengguna merasakan manfaat elektrifikasi tanpa harus mengubah kebiasaan berkendara secara signifikan. Ini yang membuat teknologi ini semakin dilihat sebagai langkah yang lebih realistis dalam perjalanan menuju kendaraan listrik sepenuhnya,” lanjutnya.
Sejalan dengan hal tersebut, teknologi SHS yang dikembangkan Jaecoo dirancang untuk menggabungkan keunggulan tenaga listrik dan mesin dalam satu sistem yang saling melengkapi.
Dalam kondisi tertentu, kendaraan dapat berjalan lebih efisien dengan tenaga listrik, namun tetap memiliki dukungan mesin untuk menjaga performa dan jarak tempuh, sehingga memberikan pengalaman berkendara yang lebih fleksibel tanpa kekhawatiran jarak.
Baca Juga: JAECOO Catat Penjualan Ciamik di Pasar Eropa dan Asia Tenggara, Teknologi Ini Jadi Senjata
Kemampuan ini telah dibuktikan melalui berbagai pengujian global di lebih dari 16 negara dengan kondisi jalan dan cuaca yang beragam.
Dalam pengujian tersebut, Jaecoo J7 mampu menempuh jarak lebih dari 1.300 kilometer, menunjukkan bahwa teknologi ini dapat diandalkan dalam berbagai situasi penggunaan.
Ngomongin pasar Indonesia, saat ini Jaecoo telah memiliki 32 dealer yang sudah beroperasi di Indonesia, termasuk pembukaan terbaru di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dan akan segera menyusul 25 dealer tambahan di berbagai wilayah.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR