"Misalnya kita bicara baterai 72V 30A. Tegangan puncaknya bisa sekitar 76,4 volt. Kalau salah satu sel sudah penuh lebih dulu, saat fast charging sistem akan mendeteksi baterai sudah penuh. Karena itu pengisian dari 80 ke 100 persen biasanya dibuat lebih lambat agar distribusi dayanya bisa merata," katanya.
Selain faktor keseimbangan sel, kondisi jaringan listrik juga turut memengaruhi proses pengisian daya.
Menurut Pius, voltase listrik di Indonesia tidak selalu stabil sehingga sistem charger harus bekerja lebih hati-hati.
"Kedua, terkait kondisi stabilitas voltase listrik di Indonesia yang tidak selalu stabil. Pernah tidak melihat lampu tiba-tiba redup di malam hari? Kalau dipasang voltmeter, akan terlihat bahwa yang seharusnya normal 220 volt kadang bisa turun jadi sekitar 200 volt. Itu sebabnya kadang orang merasa AC atau kulkasnya tidak dingin," ujarnya.
Karena itu, sistem pengisian pada motor listrik dilengkapi mekanisme pengamanan untuk menjaga tegangan tetap berada dalam batas aman.
"Jika dibayangkan, ada dua batas, batas atas dan batas bawah, seperti grafik EKG. Ketika voltase terlalu tinggi, sistem akan mendeteksi baterai sudah penuh. Kalau terlalu rendah, itu dianggap berbahaya," katanya.
Baca Juga: Sering Lewat Jalan Rusak Bikin Baterai Motor Listrik Cepat Soak?
Ia menambahkan, komunikasi antara baterai, controller, dan charger juga sangat penting dalam proses pengisian daya.
Sebab tanpa koordinasi yang baik, arus listrik yang masuk bisa menimbulkan panas berlebih pada baterai.
"Jika tidak ada komunikasi antara baterai, controller, dan charger, arus bisa terus masuk sehingga menimbulkan panas. Ketika panas, sel baterai yang terdiri dari katoda akan memuai. Akibatnya, struktur molekulnya tidak lagi berada dalam kondisi standar." papar Pius.
Karena itu, jelas Pius, proses pengisian dari 80 persen hingga penuh memang sengaja dibuat lebih lambat.
Tujuannya bukan hanya memastikan semua sel terisi merata, tetapi juga menjaga keamanan dan memperpanjang usia baterai kendaraan listrik.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR