Selain itu, perhatikan permukaan piringan cakram apakah masih rata dan tebal atau sudah mulai bergelombang.
Kalau mulai bergelombang efeknya setir mobil bisa bergetar saat proses pengereman.
Jangan lupa setel ulang rem tangan (handbrake) agar tetap pakem saat harus berhenti di tanjakan curam.
Pastikan juga piston pada kaliper rem dapat bergerak bebas tanpa hambatan dengan memberikan pelumasan khusus pada pin caliper.
Perhatikan Kondisi Minyak Rem
Minyak rem bersifat menyerap uap air atau higroskopis.
Kalau kandungan airnya tinggi, titik didih minyak rem bakal turun dan bisa bikin rem "blong" karena korosi internal.
Gunakan cairan rem standar DOT 3 atau DOT 4 sesuai spesifikasi pabrikan.
Lakukan proses bleeding rem dengan benar agar seluruh udara yang terperangkap pada sistem hilang, sehingga tekanan booster rem dan master rem tetap berada pada kondisi prima.
Periksa juga apakah ada gejala slang fleksibel yang mengembang atau retak, karena kerusakan kecil pada bagian ini dapat menyebabkan kebocoran tekanan.
Waspada Panas Berlebih
Saat melintasi jalur pegunungan dengan turunan tajam, rem bisa mengalami panas ekstrem atau brake fade.
Kondisi paling parah adalah vapor lock, di mana minyak rem menguap dan rem kehilangan daya tekan sepenuhnya.
Gunakan teknik engine brake untuk membantu memperlambat mobil, jadi beban rem tak terlalu berat.
Untuk mobil modern yang sudah ABS, pastikan sensor ABS bersih dari kotoran.
Jika lampu indikator ABS di dashboard menyala, segera bawa ke bengkel resmi untuk diagnosa yang lebih akurat.
Perhatikan selalu tanda-tanda abnormal seperti suara berdecit, bau terbakar, atau tarikan rem tidak seimbang.
"Respon cepat terhadap gejala awal kerusakan dapat menyelamatkan Anda dari biaya perbaikan yang jauh lebih besar di kemudian hari," tegas Hariadi.
| Editor | : | Dida Argadea |
KOMENTAR