Banyak perusahaan mengirim kendaraan lebih dulu ke Dubai sebelum mendistribusikannya ke negara tujuan akhir.
Sepanjang 2025 saja, satu perusahaan disebut mengirim hampir 30.000 unit mobil ke Dubai.
Strategi ini memanfaatkan keunggulan lokasi geografis, kemudahan sistem keuangan, serta insentif pajak yang ditawarkan Dubai.
Pengiriman laut masih menjadi metode utama dan paling ekonomis untuk ekspor mobil China ke Timur Tengah.
Pelabuhan Jebel Ali di Dubai, pelabuhan terbesar di kawasan tersebut, menjadi pusat utama pengiriman kendaraan jenis roll-on/roll-off sekaligus gerbang penting ekspor mobil China ke wilayah tersebut.
Situasi memburuk ketika Pelabuhan Jebel Ali diserang pada dini hari 1 Maret, sehingga operasional sempat terhenti.
Meski operator pelabuhan DP World mengumumkan empat dermaga kembali beroperasi normal pada pukul 18.00 di hari yang sama, sebagian besar perusahaan pelayaran masih menghentikan layanan mereka.
Baca Juga: Cerita Showroom Mobkas Focus Motor, Akui Tak Pernah Rugi Jual Mobil China
Akibatnya, aktivitas pelabuhan tetap lesu meskipun secara teknis sudah kembali dibuka.
Dampak gangguan ini juga merembet ke pasar Eropa.
Uni Eropa merupakan pasar regional terbesar ketiga bagi ekspor mobil China, dengan pengiriman lebih dari 1,3 juta unit pada 2025.
Eropa juga menjadi tujuan utama ekspor kendaraan energi baru (electric vehicle/EV) China.
Namun, tingginya risiko di jalur Laut Merah dan Terusan Suez memaksa kapal dialihkan melalui Tanjung Harapan (Cape of Good Hope), sehingga waktu pengiriman bertambah 10 hingga 15 hari.
Menurut Asosiasi Produsen Mobil China (China Association of Automobile Manufacturers/CAAM), China mengekspor rekor 7,09 juta unit kendaraan pada 2025, naik sekitar 20 persen secara tahunan.
Sebelumnya, CAAM memproyeksikan pertumbuhan moderat 4,3 persen menjadi 7,4 juta unit pada 2026.
Namun, konflik regional yang terus berkembang berpotensi memaksa revisi proyeksi tersebut.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR