GridOto.com - Satu dua dekade silam, memakai jaket, sarung tangan dan perlengkapan riding brand luar negeri premium adalah sebuah kebanggaan, khususnya bagi pemakai motor gede.
Brand lokal bahkan bukan jadi alternatif bagi mereka.
Namun seiring perjalanan waktu, brand-brand lokal yang kuat penetrasi dan brand image-nya di segmen bawah mampu menjadi pilihan utama.
Kenapa butuh waktu lama agar produk-produk lokal ini bisa diterima market menengah atas yang juga menarik atensi kalangan di bawahnya?
Ada beberapa hal yang kami lihat.
Pertama adalah visi dari owner brand atau produsen. Idealisme founder atau pemilik merek belum sejalan dengan ekspektasi market.
Yang terjadi product driven di mana idealisme owner disodorkan ke pasar. Berhasil? Iya tapi belum untuk menjadi local pride.
Waktu bergulir, muncul brand-brand lokal baru dengan pendekatan produk berbeda.
Amati, tiru dan modifikasinya berhasil. Enggak apa-apalah mirip-mirip produk luar tapi enggak sekadar menjiplak dengan kualitas asal-asalan. Malah berhasil memunculkan identitas dan pride dari merek.
Baca Juga: Contin, Brand Apparel Motor Lokal yang Konsisten Mengedepankan Style dan Safety
Selain, faktor-faktor penunjang lain dari eksternal.
Pemakai motor gede yang ikut mengkonsumsi produk lokal saat menaiki motor alternatif mereka, pendekatan kepada komunitas yang efektif dan brand collab dengan APM.
Pemakai motor kecil bisa pakai jaket premium berkat kolaborasi APM atau dealer dengan produsen apparel lokal.
Kebanggaan pun muncul karena mereka enggak lagi cukup pakai ‘jaket hadiah’ yang biasanya model bomber, berbahan parasut dan gampang sobek. (Iday)
Contin Moto
Di tengah gempuran merek luar negeri, Contin berhasil mempertahankan posisinya dengan fokus pada perpaduan antara gaya, kenyamanan, dan keselamatan bagi para pengendara di Indonesia.
Contin asal Cimahi, Jawa Barat yang dibangun oleh Vincent Nugroho ini bisa eksis terus dari 2006, karena brand ini terus memberikan edukasi terhadap bikers seputar apparel bermotor.
Hingga saat ini, pasar apparel di Indonesia menurut Vincent masih dalam tahap edukasi, karena kesadaran akan fungsi keselamatan seringkali masih kalah oleh tren fashion.
Baca Juga: Contin Sempat Bangkrut, Sekarang Sukses Jual Ribu Apparel Motor Tiap Bulan
Oleh karena itu menurutnya Contin mengemban misi untuk mengedukasi konsumen, bahwa perlengkapan berkendara bukan sekadar pelengkap gaya, melainkan alat pelindung risiko.
Vincent menegaskan, “Tugas brand owner dan pegiat keselamatan berkendara adalah mengedukasi tentang risiko, kenyamanan, dan keselamatan. Apparel punya peran penting di situ, tentu tanpa menghilangkan aspek fashion.”
Sebagai merek yang konsisten menghadirkan produk "serius", Contin merancang setiap produknya agar fungsional baik untuk kebutuhan harian maupun touring jarak jauh.
Keunggulan utama yang ditawarkan adalah originalitas desain yang memiliki DNA sendiri, sehingga mudah dikenali dan berbeda dari kompetitor lainnya.
Strategi ini diambil agar produk mereka tetap memiliki identitas yang kuat, sebagaimana pernyataan Vincent, “Styling kami punya DNA sendiri. Originalitas menjadi pertimbangan utama dalam menciptakan produk, supaya Contin tetap punya identitas yang kuat.”
Untuk menjaga keberlangsungan bisnis, Contin menerapkan strategi harga yang kompetitif namun tetap mengedepankan kualitas material dan fitur yang adaptif terhadap kebutuhan konsumen.
Saat ini, penjualan mereka didominasi oleh jaket touring kelas flagship dan jaket harian, dengan distribusi yang merata antara kanal offline maupun online.
Untuk harganya start dari Rp 198 ribu hingga Rp 1,6 jutaan.
Dengan terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman, Contin berkomitmen untuk tetap menjadi pilihan utama bagi para penjelajah roda dua yang menginginkan keamanan sekaligus tampilan yang keren. (Adam)
Baca Juga: Bukan Cuma Jaket, YORC Jual Apparel Riding Lengkap Harga Mulai Rp 100 Ribuan
YORC berdiri sejak 2018 dan dibangun dari sudut pandang rider itu sendiri.
“YORC lahir dari keinginan banyak rider, termasuk saya pribadi, yang ingin apparel otomotif yang nyaman dipakai riding tapi tetap terjangkau dan masih masuk dipakai harian tanpa kelihatan terlalu racing atau berat,” ujar Reyner Alexander, founder YORC kepada OTOMOTIF, Sabtu (17/1/2026).
Menurut Reyner, perkembangan kultur riding di Tanah Air berjalan sangat pesat.
Namun di sisi lain, pilihan apparel yang mampu mengakomodasi kebutuhan berkendara sekaligus gaya hidup masih tergolong terbatas, terutama di segmen brand lokal.
“Kita lihat kultur riding di Indonesia berkembang banget, tapi pilihan apparel yang proper dan tetap stylish masih terbatas. Dari situ YORC dibangun sebagai brand lokal yang pengin jadi jembatan antara fungsi riding yang aman dan nyaman dengan lifestyle,” jelasnya.
Konsep tersebut kemudian menjadi fondasi YORC dalam mengembangkan produknya. Brand lokal ini tidak hanya memposisikan apparel sebagai perlengkapan saat berada di atas motor, tetapi juga sebagai pakaian yang bisa digunakan untuk aktivitas harian tanpa harus berganti outfit.
Seiring perjalanannya, YORC kini memiliki beragam kategori produk yang menyasar kebutuhan rider harian hingga touring ringan.
Baca Juga: Dari Riding ke Aktivitas Harian, Ini Cerita Awal Brand Apparel Lokal YORC
Beberapa produk yang ditawarkan antara lain jaket riding Strayline, inner protector Flexcore, balaclava, tas helm, inner suit dan basic tee, hoodie serta crewneck, hingga celana riding seperti denim dan cargo.
Selain itu, YORC juga melengkapi lini produknya dengan berbagai aksesori seperti topi, stiker, dan side stand pad.
Harga apparel uang disuguhkan oleh YORC mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 1,2 jutaan.
Melalui ragam produk tersebut, YORC berupaya menghadirkan apparel otomotif yang fungsional, nyaman, dan tetap relevan dengan gaya hidup rider Indonesia. (Wisnu)
Merek apparel riding lokal Rabbit and Wheels terus memperkuat posisinya di pasar dengan mengusung konsep fashion with function.
Apparel asal Bandung ini menyasar pengendara motor yang ingin tetap tampil stylish tanpa mengorbankan kenyamanan dan fungsi saat berkendara.
Founder Rabbit and Wheels, Irvan Octria, menjelaskan bahwa segmentasi Rabbit and Wheels lahir dari kebutuhan bikers Indonesia yang menginginkan apparel riding dengan desain lebih menarik dan tidak kaku.
Baca Juga: Tren di Kalangan Bikers, Rabbit and Wheels Akui Padukan Konsep Fashion with Function
“Segmentasi Rabbit and Wheels ini lebih ke fashion with function. Kami ingin memberikan produk yang menarik atau fashionable untuk dipakai berkendara, karena kami melihat rata-rata jaket riding di pasaran agak kaku dari segi desain, hanya bermain logo saja dan kurang eye-catching,” ujar Irvan kepada OTOMOTIF, Senin (19/1/2026).
Menurutnya, konsep tersebut juga muncul dari permintaan langsung para bikers yang ingin tetap tampil modis saat berkendara, baik untuk kebutuhan harian maupun hobi.
Dalam hal desain, Rabbit and Wheels tidak hanya mengikuti tren dunia otomotif, tetapi juga perkembangan fashion global.
Irvan menyebut bahwa saat ini arah desain produk mereka banyak terinspirasi dari tren visual modern yang mulai bergeser ke arah tipografi.
“Untuk kiblat desain, kami mengarah ke perkembangan dunia fashion. Sekarang era gambar visual sudah mulai bergeser ke typography.
Tapi selain mengikuti tren, tim R&D kami juga memikirkan fungsi produk dengan menyesuaikan iklim Indonesia,” tambahnya.
Terkait harga, Rabbit and Wheels menawarkan lini produk mereka dengan rentang harga beragam. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan kategori dan kebutuhan pengendara.
Untuk jaket kasual, harga dibanderol mulai Rp 490.000 hingga Rp 1.150.000. Sementara lini Motorsport Jacket berada di kisaran Rp 1.593.900 sampai Rp 2.079.000.
Untuk produk T-shirt, harganya mulai dari Rp 270.000 hingga Rp 400.000.
Baca Juga: Rabbit and Wheels Buka Toko Kedua di Bandung, Luncurkan Jaket New Combo Devise Teknologi Mesh 2.0
Dengan perpaduan desain modern, fungsi yang disesuaikan iklim tropis, serta harga yang beragam, Rabbit and Wheels menargetkan bisa menjadi pilihan utama apparel riding bagi bikers Indonesia yang ingin tampil gaya di jalan.
Bahkan aftersales dari Rabbit and Wheels bisa dibilang terbaik, karena memberikan layanan cuci seumur hidup secara gratis! Dengan suguhan desain, harga hingga aftersales yang oke, enggak heran penggunanya merasakan “local pride”. (Naufal)
Respiro menawarkan rangkaian produk apparel riding yang cukup lengkap untuk kebutuhan pengendara motor di Indonesia, mulai dari jaket hingga perlengkapan pendukung.
Brand asal Bandung yang berdiri sejak 2010 ini memasarkan jaket riding sebagai produk utama, dengan banderol harga yang bervariasi tergantung segmen dan fitur yang diusung.
Untuk lini jaket, Respiro membaginya ke dalam empat kategori utama, yakni Essenzo untuk penggunaan harian, Rovero bagi kebutuhan touring, Veloce untuk racing sport touring, serta Adrenal yang ditujukan bagi pengendara adventure.
Harga jaket Respiro dipasarkan mulai dari Rp 300 ribuan hingga sekitar Rp 1,5 jutaan.
“Untuk jaketnya berkisar dari Rp 300 ribuan hingga Rp 1,5 jutaan,” ujar Creative and Growth Manager Respiro, Salman Kusuma, kepada OTOMOTIF, Senin (19/1/2026).
Baca Juga: Mulai dari Jaket Harian, Respiro Kini Sasar Touring dan Adventure Rider
Selain jaket, Respiro juga menjual berbagai produk pelengkap yang menunjang aktivitas berkendara. Di antaranya jas hujan, tas, sarung tangan, balaclava, hingga aksesori seperti gantungan kunci.
Produk-produk pelengkap tersebut ditawarkan dengan harga yang relatif terjangkau. “Untuk produk pelengkap seperti gloves dan balaclava, dimulai dari Rp 70 ribu,” jelas Salman.
Dari sisi pengembangan produk, Respiro mengandalkan material khusus bernama Pirotex pada jaket-jaketnya.
“Material khusus bernama Pirotex, yang membuat material dari jaket Respiro breathable, windproof, dan water repellent, hanya tingkatannya saja yang berbeda sesuai jaketnya,” kata Salman.
Enggak hanya soal kenyamanan, aspek keselamatan juga mulai menjadi perhatian utama Respiro seiring meningkatnya kesadaran pengendara motor.
Untuk itu, Respiro berencana memperkuat lini jaket berprotektor pada tahun 2026. “Untuk keselamatan, Respiro juga rencananya akan banyak mengeluarkan jaket berprotektor di tahun 2026 ini agar dapat menambah keamanan dari jaketnya,” tutup Salman. (Wisnu)
7Gear
Di tengah maraknya apparel motor yang menonjolkan tampilan visual, 7Gear justru hadir dengan menyasar rider enthusiast yang benar-benar aktif di jalan.
Owner 7Gear, Adet Vriono, menegaskan bahwa sejak awal, bisnisnya tersebut tidak memposisikan produknya sebagai apparel gaya hidup, melainkan perlengkapan riding yang dibangun dari kebutuhan nyata para pengendara.
Baca Juga: 7Gear, Apparel Rider Enthusiast yang Cocok Buat Touring, Adventure Hingga Offroad
“7Gear bermain di segmen rider enthusiast. Target utamanya adalah pengguna motor yang benar-benar aktif seperti adventure rider, touring rider, hingga off-road. Karena itu, functional product menjadi salah satu fitur utama yang terus kami kembangkan,” ujar Adet kepada OTOMOTIF, Senin (19/1/2026).
Angle fungsionalitas ini juga menjadi fondasi utama arah desain 7Gear.
Menurutnya, kondisi iklim tropis, jarak tempuh yang jauh, serta medan yang beragam membuat kebutuhan rider Indonesia sangat spesifik dan tidak bisa disamakan dengan pasar luar negeri.
“Kiblat desain 7Gear banyak terinspirasi dari dunia motoran overland dan dual purpose. Ini sesuai dengan kebutuhan khas rider Indonesia. Jadi desain kami bukan sekadar gaya, tapi design by function,” jelasnya.
Ia menambahkan, setiap detail produk dirancang berdasarkan kebutuhan saat berkendara, bukan sekadar estetika.
Mulai dari potongan, ventilasi, pemilihan material, hingga fitur teknis, semuanya disesuaikan agar tetap nyaman dipakai dalam berbagai kondisi perjalanan.
Dari sisi harga, 7Gear menawarkan lini produk yang luas untuk menjangkau berbagai kebutuhan rider aktif.
Rentang harganya dimulai dari Rp 99.000 hingga Rp 2.100.000, tergantung jenis produk, material, serta fitur teknis yang disematkan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Apparel, Phillip Works Gabungkan Jiwa Fashion dan Otomotif
Apparel dan pendukung yang disediakan oleh 7Gear mulai dari tankbag, sidebag, tailbag, jersey, base layer, jaket, rompi, celana, sarung tangan, tas, hingga hydrobag. (Naufal)
Phillip Works merupakan apparel brand lokal yang mengusung nilai otomotif sebagai bagian dari gaya hidup, bukan sekadar mengikuti tren pasar.
Founder & Direktur Utama Phillip Works, Jovan Koswara, menyebut bahwa sejak awal Phillip Works dibangun dengan jiwa dan karakter yang kuat, agar dapat tampil berbeda di tengah persaingan industri fashion.
“Karena brand kita punya soul atau jati diri yang membuat kita standout, tidak sekadar mengikuti tren, tapi justru berusaha menjadi pihak yang set the trend. Di luar itu, harga yang kita tawarkan juga fair dengan kualitas yang kita berikan,” ujar Jovan kepada OTOMOTIF, Senin (19/1/2026).
Dalam menentukan posisi harga, Phillip Works mengandalkan riset pasar yang matang dengan membandingkan produk-produk dari brand lokal maupun internasional.
“Tentunya dengan research yang matang, kita memperhatikan harga jual pesaing, baik brand lokal maupun internasional. Dari situ kita mampu memposisikan diri sesuai dengan kualitas dan kreativitas yang kita berikan,” lanjutnya.
Phillip Works juga menempatkan komunitas sebagai elemen penting dalam membangun citra brand. Tidak hanya komunitas otomotif, tetapi juga komunitas fashion yang memiliki peran strategis dalam memperluas jangkauan pasar.
“Peran komunitas lebih kepada membentuk brand image. Melalui komunitas, kita memberikan impresi bahwa kita ikut turun langsung untuk memahami keinginan dan kebutuhan para penggemar otomotif. Namun kita juga tidak terpatok hanya pada komunitas otomotif, karena pada dasarnya kita adalah bisnis fashion yang mengusung tema otomotif,” jelas Jovan.
Dalam strategi pemasaran, Phillip Works memilih pendekatan yang lebih intim dan kolaboratif dibandingkan kampanye berskala besar yang umum dilakukan brand luar.
“Campaign yang kita bentuk lebih ke pendekatan langsung dengan komunitas lokal, content creator lokal, seniman lokal, bahkan builder lokal. Ini berbeda dengan kebanyakan brand luar yang menggunakan artis papan atas dengan skala besar,” katanya.
Menurut Jovan, inovasi menjadi kunci utama agar brand tetap relevan di industri fashion yang dinamis, tanpa kehilangan identitas dasar yang telah dibangun.
“Inovasi itu sangat penting. Kita harus up to date dengan tren yang ada, tapi tetap mempertahankan identitas dan konsisten terhadap roots kita,” ujarnya.
Melihat perkembangan brand lokal saat ini, Jovan optimistis terhadap apresiasi pasar, khususnya di kalangan penggemar otomotif.
“Setiap orang punya selera masing-masing, tapi tidak bisa dipungkiri brand lokal sudah jauh berkembang dari segi kreativitas dan kualitas. Saya rasa hampir setiap penggemar otomotif pasti punya setidaknya satu produk brand lokal yang mereka sukai,” tutup Jovan.
Dengan pendekatan berbasis komunitas, inovasi berkelanjutan, serta identitas yang kuat, Phillip Works terus memperkuat posisinya sebagai apparel lokal yang merepresentasikan semangat otomotif dalam gaya hidup modern. (Adam)
Artikel ini telah tayang di Tabloid OTOMOTIF Edisi 37-XXXV 22 Januari 2026
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR