Setelah menelusuri penyebabnya, Kiefer menemukan fakta mengejutkan.
Selama lebih dari satu dekade, Ia menggunakan pelat nomor khusus bertuliskan 'LUVSICK' pada mobilnya.
Ternyata, sebuah perusahaan pakaian bernama Broken Promises Co. menjual pelat nomor dekoratif bertuliskan kata yang sama dengan desain mirip pelat nomor resmi California.
Pelat tersebut juga dijual oleh peritel nasional Zumiez.
Tulisan merah di bagian atas pelat putih itu menyerupai desain pelat nomor asli California, sehingga mudah disalahartikan sebagai pelat resmi ketika dipasang di kendaraan.
Baca Juga: Trik Sanggah Tilang Elektronik Salah Sasaran, Sertakan Bukti Ini Dijamin Lolos
Akibatnya, kamera tilang otomatis di berbagai negara bagian menangkap pelat 'LUVSICK' yang dipasang pada kendaraan lain dan secara keliru mengirimkan denda kepada Kiefer sebagai pemilik resmi pelat tersebut.
Menurut Kiefer, pelat dekoratif itu kini sudah tidak lagi dijual secara daring setelah pengacaranya mengirimkan surat peringatan hukum (cease-and-desist letter).
Meski demikian, pelat dekoratif lain dengan tulisan berbeda masih tersedia di situs perusahaan tersebut.
Departemen Kendaraan Bermotor California (DMV) menyatakan hukum negara bagian melarang penjualan produk apa pun yang dapat digunakan untuk menipu, menyalahartikan atau meniru identitas kendaraan, termasuk pelat nomor.
Namun, DMV mengakui tidak memiliki kewenangan langsung untuk menegakkan aturan tersebut terhadap peritel.
Sementara itu, juru bicara California Highway Patrol menyebut pihaknya tidak dapat melarang peritel menjual pelat nomor palsu sebagai barang dekoratif.
Meski demikian, pelat semacam itu tidak diperbolehkan digunakan pada kendaraan di jalan raya.
Baca Juga: STNK Diblokir Padahal Salah Sasaran Tilang Elektronik, Begini Cara Mengurusnya
Kiefer sendiri mengatakan seluruh tilang yang diterimanya telah berhasil dibatalkan usai melalui proses sanggahan yang panjang dan melelahkan.
Namun, ia mengaku belum merasa puas.
Ia berharap seluruh pelat nomor dekoratif yang menyerupai pelat resmi ditarik dari peredaran agar tidak ada lagi orang yang mengalami kejadian serupa.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa penggunaan pelat nomor palsu atau dekoratif yang menyerupai pelat resmi dapat menimbulkan persoalan hukum serius, bahkan bagi pemilik pelat asli yang tidak melakukan pelanggaran apa pun.
| Editor | : | Hendra |
KOMENTAR