Baca berita tanpa iklan. Gabung Gridoto.com+

Pengamat Ekonomi Bikin 3 Simulasi Insentif Mobil Listrik, Opsi Ketiga Dinilai Paling Masuk Akal

Naufal Shafly - Selasa, 10 Februari 2026 | 20:30 WIB
Ilustrasi BYD Atto 1, salah satu mobil listrik yang mendapat insentif tahun lalu
Hendra
Ilustrasi BYD Atto 1, salah satu mobil listrik yang mendapat insentif tahun lalu

GridOto.com – Pemerintah masih belum memberikan kejelasan terkait nasib insentif kendaraan listrik di Indonesia tahun ini.

Terkait hal ini, Pengamat Ekonomi Josua Pardede memetakan tiga simulasi kebijakan yang bisa diambil pemerintah, dengan opsi ketiga disebut sebagai solusi paling rasional dan berimbang.

Dalam simulasi pertama, insentif BEV dihentikan sepenuhnya tanpa adanya perpanjangan atau skema pengganti.

Skenario ini diprediksi akan langsung memicu kenaikan harga mobil listrik di pasar.

“Kenaikan harga itu pada akhirnya akan berdampak ke penjualan BEV itu sendiri,” ujar pengamat Josua.

Ia menilai, jika harga mobil listrik naik karena tidak ada insentif di tahun ini, konsumen akan kembali berpikir ulang untuk membeli unit, karena selisih harga dengan mobil konvensional makin melebar.

Tak hanya berdampak ke segmen kendaraan listrik, penghentian insentif juga diyakini akan menekan kinerja penjualan otomotif nasional secara keseluruhan sepanjang tahun berjalan.

Simulasi kedua adalah perpanjangan seluruh insentif BEV seperti yang berlaku saat ini.

Dalam skenario ini, tekanan terhadap penjualan otomotif dinilai bisa diredam.

Baca Juga: Insentif Belum Jelas, Begini Prediksi Chery Soal Market Otomotif di 2026

“Kalau insentif dilanjutkan, tentu bisa mengurangi tekanan penjualan otomotif di tahun ini,” jelasnya.

Namun, peluang realisasi opsi ini dinilai relatif kecil.

Pasalnya, pemerintah tetap harus mempertimbangkan kondisi fiskal.

Berdasarkan realisasi APBN tahun lalu, defisit tercatat berada di kisaran 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Dari sudut pandang fiskal, Kementerian Keuangan disebut masih akan mengkaji efektivitas insentif, termasuk dampaknya terhadap perekonomian riil.

Apalagi ruang fiskal tahun ini dinilai cukup terbatas, sementara target penerimaan pajak dalam APBN 2026 dipatok tinggi, sekitar 13 persen.

Di sisi lain, belanja pemerintah untuk berbagai program prioritas juga masih besar.

Tantangan bisa bertambah apabila pemerintah ke depan juga ingin memberikan dukungan insentif untuk program mobil nasional.

Adapun simulasi ketiga dinilai sebagai opsi paling masuk akal sekaligus jalan tengah. Dalam skenario ini, insentif BEV tetap diberikan, namun bersifat terbatas dan bersyarat.

Baca Juga: Tak Cuma Soal Insentif, Ini Strategi VinFast Masuk Pasar Nasional

 Misalnya, insentif hanya ditujukan untuk konsumen pembelian mobil pertama, atau diberikan kepada produsen yang telah memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

“Ini yang kami lihat secara umum bisa menjadi win-win solution,” tutupnya.

Dengan skema insentif bersyarat, pemerintah tetap bisa menjaga keberlanjutan adopsi kendaraan listrik, sekaligus mengendalikan beban fiskal agar tetap sehat.

Sobat bisa berlangganan Tabloid OTOMOTIF lewat www.gridstore.id.

Atau versi elektronik (e-Magz) yang dapat diakses secara online di : ebooks.gramedia.com, myedisi.com atau majalah.id



KOMENTAR

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X
yt-1 in left right search line play fb gp tw wa