GridOto.com – Pemerintah masih belum memberikan kejelasan terkait nasib insentif kendaraan listrik di Indonesia tahun ini.
Terkait hal ini, Pengamat Ekonomi Josua Pardede memetakan tiga simulasi kebijakan yang bisa diambil pemerintah, dengan opsi ketiga disebut sebagai solusi paling rasional dan berimbang.
Dalam simulasi pertama, insentif BEV dihentikan sepenuhnya tanpa adanya perpanjangan atau skema pengganti.
Skenario ini diprediksi akan langsung memicu kenaikan harga mobil listrik di pasar.
“Kenaikan harga itu pada akhirnya akan berdampak ke penjualan BEV itu sendiri,” ujar pengamat Josua.
Ia menilai, jika harga mobil listrik naik karena tidak ada insentif di tahun ini, konsumen akan kembali berpikir ulang untuk membeli unit, karena selisih harga dengan mobil konvensional makin melebar.
Tak hanya berdampak ke segmen kendaraan listrik, penghentian insentif juga diyakini akan menekan kinerja penjualan otomotif nasional secara keseluruhan sepanjang tahun berjalan.
Simulasi kedua adalah perpanjangan seluruh insentif BEV seperti yang berlaku saat ini.
Dalam skenario ini, tekanan terhadap penjualan otomotif dinilai bisa diredam.
Baca Juga: Insentif Belum Jelas, Begini Prediksi Chery Soal Market Otomotif di 2026
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR