Tanpa curiga, pihak ambulans langsung bergerak cepat menuju alamat rumah seorang perempuan bernama Lia.
Namun, setibanya di lokasi, tidak ada warga yang memesan ambulans.
"Kita bertemu dengan Mbak Lia, katanya dia tidak sakit," ungkapnya.
Saat nomor pemesan kembali dihubungi, jawaban yang diterima justru membingungkan.
"Jawabannya cuma bilang ‘itu kakak saya’," lanjut Aldy.
Baca Juga: Ibu Rumah Tangga Ditipu Oknum Polisi Rp 354 Juta, Berawal Titip Urus Pajak Kendaraan
Pemilik rumah juga menyebut bahwa sehari sebelumnya, rumahnya didatangi sejumlah kendaraan pengiriman akibat order fiktif serupa.
Aldy kemudian menghubungi rekan ambulans lain dan kembali mencoba menelepon nomor pemesan.
"Jawabannya malah bilang, ‘suruh ngelunasin dulu utangnya Rp 14 juta. Kalau enggak, nanti saya panggil damkar’," kata Aldy.
Ia menambahkan, bukan hanya Ambulans Antasena yang menjadi korban.
Dua unit ambulans lain milik rekan-rekannya juga mengalami kejadian serupa di lokasi yang sama.
Akibat prank order fiktif tersebut, pihak ambulans mengaku mengalami kerugian bahan bakar dan tenaga.
Sebagai ambulans swasta, biaya operasional dikeluarkan terlebih dahulu, sementara pembayaran baru diterima setelah layanan selesai.
"BBM pakai uang pribadi. Kondisi lagi sepi order, tapi tetap berangkat karena mikirnya ada pasien," ujarnya.
Biasanya, tarif layanan ambulans dalam kota berkisar Rp 400.000 hingga Rp 500.000 untuk pulang pergi, dan sekitar Rp 350.000 untuk sekali jalan.
| Editor | : | Dida Argadea |
KOMENTAR