Baca berita tanpa iklan. Gabung Gridoto.com+

Mengguncang Badan, Ini Sebab Tambalan Jalan Aspal di Indonesia Rata-rata Keriting

Irsyaad W - Selasa, 3 Februari 2026 | 10:15 WIB
Ilustrasi proyek penambalan jalan aspal
Tribunjateng.com/Tito Isna Utama
Ilustrasi proyek penambalan jalan aspal

GridOto.com - Aspal jalan di Indonesia yang rusak biasanya diperbaiki dengan cara ditambal ulang.

Namun hasilnya rata-rata keriting, mengguncang badan pengendara kendaraan ketika melintasinya.

Praktisi konstruksi jalan dan jembatan, Riski Wahyudi, menjelaskan ada sejumlah faktor teknis hingga kebijakan pemeliharaan jalan yang menyebabkan hasil tambalan aspal kerap berbeda dari permukaan jalan sebelumnya.

Menurut dia, kegiatan penambalan aspal atau patching termasuk dalam kegiatan pemeliharaan rutin jalan (preservasi).

Artinya, pekerjaan ini tidak ditujukan untuk meningkatkan kualitas atau kenyamanan jalan secara keseluruhan.

"Kegiatan penambalan aspal merupakan kegiatan pemeliharaan rutin jalan (preservasi), di mana tidak menambah kemantapan jalan (tingkat kenyamanan jalan)," jelas Riski saat dihubungi, (27/1/26) menukil Kompas.com.

Namun demikian, lanjutnya, kegiatan penambalan jalan tidak boleh dilakukan asal-asalan, namun seharusnya mengacu pada standar baku dalam konstruksi jalan, yakni International Roughness Index (IRI).

Baca Juga: Lokasi Aspal Mengelupas saat Banjir di Cirebon Terungkap, Polisi Sebut Asli tapi Begini Fakta Sebenarnya

Pengelola tol Tangerang-Merak melakukan penambalan jalan berlubang setelah banyak alami pecah ban
Dok. Astra Tol Tangerang Merak
Pengelola tol Tangerang-Merak melakukan penambalan jalan berlubang setelah banyak alami pecah ban

IRI adalah indikator tingkat kerataan permukaan jalan.

Idealnya, kegiatan tambal sulam dilakukan agar nilai IRI tetap terjaga dan tidak semakin memburuk akibat kerusakan lokal seperti lubang atau retak.

"Kegiatan tambal sulam seharusnya untuk menjaga nilai IRI (kerataan permukaan jalan) agar tetap sama seperti sebelumnya," beber dosen Teknik Sipil Untara ini.

Diungkapkannya, perbedaan utama antara tambalan jalan aspal dan pekerjaan peningkatan jalan terletak pada cakupan pekerjaan.

Pada pemeliharaan rutin seperti patching, aspal hanya ditambal di area yang mengalami kerusakan.

Akibatnya, permukaan tambalan harus disesuaikan dengan jalan lama yang sudah mengalami penurunan kualitas akibat usia, beban lalu lintas, dan cuaca.

Kondisi ini berbeda dengan kegiatan rehabilitasi minor maupun mayor, yang memang dirancang untuk meningkatkan kemantapan jalan.

Baca Juga: Adu Awet Jalan Aspal Vs Beton di Indonesia, Ini Penjelasan Dari Ahlinya

ilsutrasi perbaikan jalan yang akan dilakukan di Jateng sebelum mudik Lebaran 2023.
TribunJateng.com
ilsutrasi perbaikan jalan yang akan dilakukan di Jateng sebelum mudik Lebaran 2023.

Pada rehabilitasi, perbaikan dilakukan secara lebih menyeluruh, misalnya dengan pelapisan ulang (overlay) atau perbaikan struktur jalan.

"Kegiatan rehabilitasi minor atau mayor akan menambah kemantapan jalan. Berbeda dengan kegiatan minor dan mayor, Kegiatan rutin jalan seperti patching hanya menambal daerah kerusakan saja (tidak keseluruhan badan jalan)," papar Riski.

Selain aspek perencanaan, hasil tambalan yang tidak rata juga bisa dipengaruhi oleh faktor teknis di lapangan, seperti material yang dipakai, keterbatasan anggaran, pemadatan yang asal-asalan, hingga kondisi permukaan jalan lama yang sudah bergelombang.

Editor : Hendra

Sobat bisa berlangganan Tabloid OTOMOTIF lewat www.gridstore.id.

Atau versi elektronik (e-Magz) yang dapat diakses secara online di : ebooks.gramedia.com, myedisi.com atau majalah.id



KOMENTAR

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X
yt-1 in left right search line play fb gp tw wa