Peningkatan tersebut sejalan dengan semakin agresifnya ekspansi merek kendaraan listrik, khususnya dari Tiongkok, yang memanfaatkan momentum insentif fiskal dan nonfiskal dari pemerintah.
Selain itu, mobil listrik roda empat juga dinilai paling relevan dengan kebutuhan konsumen Indonesia, terutama untuk penggunaan harian di wilayah perkotaan.
Dominasi kendaraan roda empat juga terlihat pada data Sertifikat Uji Tipe.
Sepanjang periode 2010 hingga 2025, Kemenhub mencatat total 314 unit SUT untuk mobil penumpang listrik.
Setelah bergerak relatif lambat hingga 2020, jumlah SUT mulai meningkat pada 2021 dan terus menunjukkan tren naik hingga 2025.
Pada tahun terakhir, tercatat 89 unit SUT, sedikit lebih tinggi dibandingkan 87 unit pada 2024.
Baca Juga: Penjualan Tesla Menukik di 2025, BYD Rebut Tahta Mobil Listrik Dunia
Kenaikan SUT ini mengindikasikan bertambahnya jumlah model mobil listrik yang memasuki tahap pengujian tipe, sebelum diproduksi massal atau dipasarkan secara luas.
Sementara itu, kontribusi segmen kendaraan listrik lainnya masih relatif terbatas, bus listrik dalam data SRUT tercatat sebanyak 723 unit secara kumulatif.
Itu pun dengan peningkatan terlihat pada 2024 dan 2025 yang sebagian besar didorong oleh kebutuhan transportasi publik dan proyek pengadaan pemerintah daerah.
Mobil barang listrik juga mulai menunjukkan perkembangan, meski volumenya masih kecil dengan total 273 unit SRUT hingga 2025.
Kategori kendaraan khusus dan kendaraan roda tiga belum menunjukkan pergerakan signifikan dalam proses sertifikasi, baik pada SRUT maupun SUT.
Hal ini memperlihatkan fokus elektrifikasi nasional masih terkonsentrasi pada mobil penumpang roda empat sebagai tulang punggung pengembangan ekosistem KBLBB.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR