Baca Juga: Aji Mumpung, Jukir Nakal di Solo Getok Tarif Parkir Selangit Untuk Mobil
Namun, menurut pengakuannya, oknum juru parkir justru marah saat dirinya membayar sesuai tarif resmi tersebut.
"Capek jane bahas parkir di Solo kang mas @respatiardi, peraturan parkir progresif udah nggak berlaku tapi realita lapangan nggak jelas semua. Jukir masih itung jam-jaman itu saya masuk 12.40 ditulis. Alesane mereka banyak setoran-setoran dan pajak. Dishub bagian parkir responsif sebenarnya nyuruh saya bayar tetep Rp 3 ribu, tapi yo disayangkan kejadian berulang-ulang lho," tulis pengunggah di Threads.
Pengunggah juga mengaku bukan kali pertama mengalami kejadian serupa di lokasi tersebut.
"Beberapa pekan lalu periksa di RS Gigi di depan Grand Mall ditarik Rp 10 ribuan karena 3 jam. Kemarin dimintain Rp 6 ribu. Tak bayar Rp 4 ribu cuma yo nganggo (pakai) nesu-nesu (marah-marah) sik (dulu)," lanjutnya.
Kepala UPTD Perparkiran Dishub Kota Solo, Haryono mengatakan, hasil klarifikasi di lapangan menunjukkan mobil yang dimaksud bukan milik pasien umum, melainkan dokter muda atau koas yang menjalani pendidikan di RSGM Soelastri.
Menurut dia, para koas memarkirkan mobil di area parkir tepi jalan sejak pagi hingga sore karena lahan parkir di dalam rumah sakit terbatas.
"Terus sama si jukire, itu kan kita mintai keterangan. Lah, wong sampai ditarik segitu, nggo opo? (Buat apa). Yang parkir di parkiran luar itu ternyata koas-koas. Dari pagi sampai jam lima sore," jelas Haryono dikutip dari Kompas.com, (1/7/26).
Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat kendaraan yang terparkir tidak berganti sepanjang hari sehingga juru parkir hanya melayani kendaraan yang sama.
"Jadi kan kalau di situ cuman diisi mobilnya koas, ya berarti pagi sampai malem kan mobilnya hanya itu terus, enggak ada pergantian seperti itu. Terus dari rumah sakit tadi di dalam itu parkirannya juga kurang," paparnya.