Presiden Jerman Dibujuk Prabowo Investasi Mobil Listrik dan Semikonduktor di Indonesia

Irsyaad W - Selasa, 16 Juni 2026 | 15:30 WIB

Pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden RF Jerman, Frank-Walter Steinmeier, (15/6/26)

Ini merupakan kunjungan keempat Steinmeier ke Indonesia.

Namun, di era Prabowo, ini jadi yang pertama kalinya.

"Bahwa saya kembali berkunjung ke sini ada alasan yang kuat. Di dalam situasi di mana dunia tergoncang oleh kekerasan di banyak kawasan dunia yang makin meningkat, dalam situasi kemitraan seperti antara Jerman dengan Indonesia sangat berarti. Ini merupakan kemitraan antara kedua negara yang saling berkomitmen untuk dasar aturan hukum yang tetap. Dan itu menjadi ikatan antara kedua negara kita setidaknya sejak Deklarasi Jakarta tahun 2012," ujar Steinmeier, (15/6/26).

Steinmeier menyampaikan, Ia dan Prabowo membahas tentang betapa pentingnya hubungan Jerman dengan Indonesia di tengah-tengah situasi dunia yang sangat sulit.

Dia menyinggung perang yang sedang pecah di mana-mana, mulai dari Eropa, Timur Tengah, Asia Tengah, Gaza, Sudan, hingga Yaman.

Baca Juga: Ambisi Ciptakan Mobil Nasional Indonesia Sendiri, Prabowo Panggil Para Ahli dan Profesor

"Dan saya yakin kita harus lebih memperdalam kemitraan ini, dan juga di bidang iklim, pendidikan, penelitian, dan budaya. Tadi, Anda sudah katakan betapa pentingnya keanekaragaman topik yang kita bicarakan dan betapa banyak perkembangannya selama beberapa tahun terakhir dan betapa besarnya potensi untuk bisa dikembangkan lagi," ujar dia.

"Dan kita saling sepakat bahwa kita mendukung dunia berdasarkan aturan yang tetap dan kita juga mendukung unsur-unsur Piagam PBB. Dan kawasan Eropa dan Asia Pasifik, situasi di sana hanya bisa dipikirkan dan dipertimbangkan secara bersama," sambung Steinmeier.

Steinmeier mengungkit Indonesia yang merupakan faktor stabilitas penting di dalam kawasan ASEAN.

Dia mengatakan, di samping politik keamanan, perlindungan lingkungan, dan sebagainya, Indonesia bekerja sama dengan Jerman dengan sangat serius.

"Indonesia dan Jerman juga ada keinginan bersama untuk mengadakan kerangka yang baik untuk perdagangan dan ekonomi. Kami harap perjanjian Indonesia-Eropa CEPA itu yang perundingan terselesaikan sesudah waktu yang lama akhirnya juga ditandatangani. Dan dengan itu sampai 90 persen dari bea cukai ditiadakan," imbuh dia.

YANG LAINNYA