GridOto.com - Belanja suku cadang otomotif saat ini pasti bikin syok, karena harga terpantau meroket.
Kenaikan harga ini disebabkan semakin terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku industri komponen otomotif, mengingat sebagian bahan baku dan material masih bergantung pada impor yang transaksinya menggunakan mata uang asing.
Direktur Astra Otoparts Sophie Handili mengatakan, di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga material, perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis dan daya beli konsumen.
"Di tengah dinamika depresiasi nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya material, kami terus menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis dan daya beli pelanggan," kata Sophie, (2/6/26) disitat dari Kompas.com.
Sophie menjelaskan, Astra Otoparts telah melakukan penyesuaian harga pada sebagian produk suku cadang.
Namun, kenaikan biaya material tidak seluruhnya dibebankan kepada konsumen.
Menurut dia, perusahaan tetap berupaya menjaga harga jual agar tetap kompetitif melalui berbagai strategi efisiensi dan pengendalian biaya.
"Harga sebagian produk suku cadang telah disesuaikan, tetapi kami juga berupaya agar kenaikan harga material tidak sepenuhnya diteruskan kepada pelanggan," ujar Sophie.
Untuk menekan dampak kenaikan biaya produksi, Astra Otoparts menjalankan sejumlah langkah internal.
Baca Juga: Mohon Maaf, Harga Oli dan Suku Cadang Motor Honda Terpaksa Dimahalkan 10 Persen
Salah satunya dengan menerapkan multisourcing material guna menjaga ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan.
Selain itu, perusahaan juga meningkatkan produktivitas melalui otomasi di berbagai lini operasional serta menjalankan sejumlah program pengurangan biaya (cost reduction).
"Selain melakukan review terhadap harga jual produk secara selektif, kami juga melakukan beberapa inisiatif internal seperti multisourcing material untuk menjaga ketersediaan material secara berkelanjutan," terang Sophie.
Ia menambahkan, seluruh langkah tersebut dilakukan untuk menjaga struktur biaya dan harga tetap kompetitif dengan mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari kebutuhan bisnis, daya beli masyarakat, hingga kebutuhan pelanggan.
Meski demikian, Sophie mengakui pelemahan rupiah dan kenaikan harga material tetap memberikan tekanan terhadap kinerja perusahaan.
Astra Otoparts pun terus berupaya mengelola dampak yang timbul agar tidak mengganggu pasokan maupun daya saing produk di pasar.
Secara umum, kenaikan harga rata-rata beberapa suku cadang otomotif di segmen aftermarket masih berada di bawah 10 persen.
Namun, kondisi berbeda terjadi pada produk oli dan pelumas yang mengalami kenaikan harga lebih tinggi.
"Pelemahan rupiah dan kenaikan harga material memberikan tantangan bagi perseroan. Namun demikian, kami berupaya mengelola dampak yang timbul dari kenaikan harga material," ujar Sophie.
"Kenaikan harga rata-rata beberapa suku cadang otomotif di segmen aftermarket kurang dari 10 persen, tetapi khusus untuk produk oli dan pelumas naik di atas 10 persen," ujarnya.
Dengan kondisi nilai tukar rupiah yang masih berada di bawah tekanan, harga suku cadang otomotif berpotensi mengalami penyesuaian secara bertahap.
Meski demikian, pelaku industri berupaya menahan kenaikan agar tidak terlalu membebani konsumen dan menjaga daya saing produk di pasar.