GridOto.com – Suzuki Fronx SGX AT 2Tone, salah satu peserta Barisan Sang Penguasa, ternyata asyik buat harian, apa alasannya?
Faktornya yang pertama dari sisi dimensi. Sebagai mini SUV ukuran Fronx tergolong kecil, sehingga lincah dipakai harian, termasuk di kawasan sub-urban seperti saat digunakan di daerah Ciputat dan Pamulang, Tangerang Selatan dan sekitarnya yang selain jalanan utamanya, tidak terlalu lebar.
Jika menilik dari dimensi, Fronx SGX AT 2Tone yang dijual Rp 331,3 juta (OTR Jakarta) punya ukuran panjang x lebar x tinggi hanya 3.995 x 1.755 x 1.550 mm, kemudian jarak sumbu roda 2.520 mm.
Jadi ukurannya seperti kebanyakan city car cuma dengan tampilan lebih gagah khas SUV, kurang lebih mirip ukuran Nissan March dan kawan-kawannya.
Dengan begitu, efeknya ketika dipakai harian nyetir Fronx bisa mengurangi rasa deg-degan yang sering dirasakan saat menyetir mobil besar, terutama ketika harus papasan di jalan yang sempit.
Saat bermanuver ketemu belokan patah atau harus putar balik pun tidak akan bikin deg-degan, karena radius putarnya masih tergolong kecil. Ditunjang juga dengan ukuran lingkar setir yang tergolong kecil dan saat diputar sangat ringan.
Baca Juga: Beda Jauh, Segini Perbandingan Pembeli Suzuki Fronx Manual dan Matik
Makin tenang karena Fronx SGX punya fitur Around View Monitor, sehingga kondisi sekitar mobil bisa terlihat di layar headunit, meski catatannya fitur ini hanya bisa aktif ketika kecepatan rendah dan kualitas gambarnya juga kurang jernih.
Dari dalam kabin, pandangan ke luar untuk sopir pun masih cukup luas, meski kalau melihat ke sisi kanan lumayan terhalang pilar A. Catatannya yang penting posisi duduk harus diatur ulang sesuai tinggi badan, biar pandangan lebih maksimal.
Kemudian dari sisi kenyamanan, duduk di jok Fronx baris pertama terasa mantap, karena desainnya ala semi bucket seat.
Dari sisi karakter redaman suspensi, Fronx termasuk sedang saja, bukan yang empuk banget, bukan pula yang keras, sehingga masih nyaman namun kestabilan di kecepatan tinggi atau ketika menikung kencang masih tergolong baik.
Dari sisi kepraktisan, dengan banyaknya kompartemen penyimpanan dan cup holder baik di area kursi baris pertama maupun kedua, memudahkan saat perlu meletakkan barang bawaan dan botol air minum.
Apalagi juga terdapat wireless charger yang terletak di bawah panel AC, sehingga ketika mau mengisi ulang baterai smartphone tidak perlu kesulitan, meski dicolok langsung pakai kabel pun power outlet model USB tersedia, baik di depan maupun belakang.
Baca Juga: Minat Suzuki Jimny Baru, Cek Daftar Harga Lengkapnya per Juni 2026
Bagi sopir khususnya, mengatur banyak hal juga tergolong praktis. Misal mengatur audio, karena seperti umumnya mobil masa kini, pengaturannya bisa langsung dari setir pakai tombol yang ada di palang setir sebelah kiri.
Kemudian untuk mengatur fitur lain misal Head-Up Display sampai Around View Monitor, tombolnya berderet rapi di sebelah kanan kolom setir, jadi mudah dijangkau.
Secara akomodasi meski tergolong mini SUV, kabin sampai bagasi Fronx masih tergolong lega. Lebih dari cukup untuk berkendara harian tentunya kalau jumlah anggota keluarga maksimal 5.
Penumpang di depan maupun belakang tidak merasa sempit, karena ruang kepala dan ruang kaki memang luas.
Begitu juga dengan bagasi, dimensinya cukup lapang, kalau sekadar dipakai belanja kebutuhan bulanan keluarga kecil kapasitasnya sangat lebih dari cukup.
Kenyamanan penumpang baris kedua juga dipikirkan oleh Suzuki, makanya ditunjang dengan adanya kisi AC di bagian tengah.
Bagaimana dengan mesin? Apakah karakternya juga menunjang kenyamanan ketika dipakai harian? Apalagi kan disertai sistem hybrid, meski ini adalah mild hybrid.
Dapur pacu Fronx SGX ini berkode K15C, yang dilengkapi dual injector dan juga Integrated Starter Generator (ISG). ISG inilah komponen utama di mesin yang bekerja dalam sistem hybrid Fronx.
Oiya tenaga maksimal Fronx SGX termasuk kecil untuk sebuah mesin 1.500 cc, 4 silinder DOHC 16 katup, hanya 99,2 dk di 6.000 rpm dan torsi maksimal 135 Nm di 4.400 rpm.
Jadi ketika berakselerasi saat sistem mild hybrid tidak bekerja terasa biasa saja. Ini saat gas ditekan perlahan atau kondisi baterai lithium-ion kapasitasnya tidak mencukupi untuk menggerakkan ISG.
Namun ketika sistem mild hybrid bekerja, yaitu ketika pedal gas ditekan spontan dan kapasitas baterai mencukupi, maka tarikan terasa enteng.
Karena ISG akan menambah torsi tambahan secara spontan beberapa detik, memanfaatkan energi yang tersimpan di baterai lithium-ion yang terletak di bawah jok penumpang depan.
Hal itu membuat akselerasinya cukup baik, dari hasil pengetesan catatannya 0-100 km/jam 12,4 detik, 0-60 km/jam 5,1 detik, 40-80 km/jam 5,4 detik, 0-201 meter 11,9 detik dan 0-402 meter 18,4 detik.
Oiya karena ada sistem mild hybrid, maka ketika lepas gas atau deselerasi akan terjadi regenerative brake.
Kondisi di mana ISG akan melakukan pengisian ulang arus ke baterai, otomatis akan terasa ada engine brake tambahan, yang membuat laju mobil tertahan.
Namun karena momen regenerative brake ini tidak terus-terusan dari lepas gas sampai benar-benar pelan, membuat laju mobil seperti mengayun, karena kadang tertahan kadang tiba-tiba ngeloyor.
Efeknya saat dipakai di dalam kota yang kecepatannya tidak terlalu tinggi justru jadi kurang nyaman. Beda cerita ketika di jalan tol dalam kecepatan tinggi, rasa itu lebih minim, sehingga tidak begitu mengganggu.
Di balik itu, tentunya menyimpan sisi positif. Kombinasi mesin 1.500 cc, transmisi otomatis 6 percepatan dan mild hybrid, membuat konsumsi bahan bakar Fronx ini terbilang hemat.
Dari hasil pengetesan untuk rute Dalam Kota dapat 18,6 km/l, konstan 90 km/jam @ 1.800 rpm dapat 20 km/l, dan yang luar biasa di rute Kombinasi dapat 27,6 km/l.