GridOto.com - Banyak pengemudi merasa kemampuan mengendalikan mobil menjadi faktor utama keselamatan saat berkendara.
Padahal, risiko kecelakaan di jalan tidak hanya ditentukan oleh keterampilan mengemudi semata.
Di tengah kondisi lalu lintas yang semakin padat, pengendara dituntut lebih waspada dan mampu mengantisipasi berbagai potensi bahaya yang muncul selama perjalanan.
Salah satu cara yang dinilai efektif untuk meminimalkan risiko kecelakaan adalah dengan menerapkan budaya defensive driving atau berkendara defensif.
Menurut Hariadi, Asst. to Aftersales Department Head of Service PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), potensi risiko selalu ada di setiap perjalanan, terutama ketika volume kendaraan meningkat saat musim liburan.
"Potensi risiko perjalanan selalu ada, termasuk saat lalu lintas meningkat, seperti pada periode libur panjang. Agar semua pengguna jalan bisa meminimalisir potensi tersebut bersama-sama, akan lebih baik jika kita menerapkan defensive driving," ujar Hariadi melalui keteranganya, Selasa (2/6/2026).
Defensive driving sendiri merupakan metode berkendara yang menekankan sikap antisipatif.
Pengemudi tidak hanya bereaksi terhadap kondisi yang terjadi, tetapi juga berusaha memprediksi potensi bahaya sebelum benar-benar muncul.
Penerapannya bisa dimulai dari hal sederhana, seperti memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima sebelum digunakan.
Pemeriksaan ban, rem, lampu, wiper, hingga cairan kendaraan menjadi langkah penting sebelum melakukan perjalanan jauh.
Baca Juga: Suzuki Fronx Catat Kenaikan Penjualan, Laku Segini pada April 2026
Selain itu, menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan juga perlu diperhatikan agar pengemudi memiliki waktu yang cukup untuk bereaksi saat terjadi kondisi darurat.
Penggunaan lajur secara benar, menghindari perpindahan jalur secara mendadak, serta selalu menyalakan lampu sein sebelum berpindah arah juga menjadi bagian dari defensive driving.
Pengemudi juga disarankan rutin memantau kondisi sekitar kendaraan melalui kaca spion untuk mengurangi risiko yang berasal dari area blind spot.
Tak kalah penting, pengendara perlu menjaga emosi selama perjalanan dan menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan.
Jika mulai merasa lelah atau konsentrasi menurun, sebaiknya segera beristirahat di lokasi yang aman sebelum melanjutkan perjalanan.
Di sisi lain, perkembangan teknologi kendaraan juga dapat membantu meningkatkan kewaspadaan pengemudi.
Salah satunya melalui fitur Smart e-Mirror yang tersedia pada New XL7 Alpha Hybrid.
Fitur ini memanfaatkan kamera yang dipasang di bagian belakang kendaraan untuk menampilkan kondisi area belakang mobil secara lebih jelas melalui layar pada kaca spion.
Posisi kamera dengan sudut pandang lebih lebar disebut mampu mengurangi blind spot yang kerap mengganggu visibilitas pengemudi.
Baca Juga: Minat Suzuki Jimny Baru, Cek Daftar Harga Lengkapnya per Juni 2026
Selain itu, tampilan visual yang lebih terang dan stabil dinilai membantu pengemudi mengambil keputusan lebih cepat ketika menghadapi situasi di jalan.
Fitur tersebut juga dilengkapi kemampuan merekam kondisi di depan dan belakang kendaraan yang dapat dimanfaatkan sebagai dokumentasi perjalanan.
"Kehadiran fitur ini menjadi relevan bagi konsumen yang membutuhkan visibilitas tambahan, terutama saat berkendara bersama keluarga, membawa barang bawaan, atau menempuh jalur antarkota dengan kondisi lalu lintas beragam," jelas Hariadi.
Meski demikian, Suzuki menegaskan bahwa Smart e-Mirror hanya berfungsi sebagai perangkat pendukung dan bukan pengganti kewaspadaan pengemudi.
"Teknologi dapat membantu perjalanan menjadi lebih aman, tetapi perilaku berkendara antisipatif tetap menjadi faktor penentu. Defensive driving membantu pengemudi tetap waspada dan terkendali dalam menghadapi berbagai situasi di jalan," tutup Hariadi.