Lebih lanjut, Sony menyoroti adanya ketimpangan pemahaman antara wisatawan dan penyedia jasa.
Wisatawan yang datang umumnya hanya memikirkan aspek hiburan tanpa menyadari risiko bahaya di jalur ekstrem.
"Wisatawan tahunya cuma aman-aman dan happy-happy saja, selebihnya tanggung jawab pengelola, karena jip-jip tersebut diakui oleh pihak internal," ucap Sony.
Faktor psikologis di lapangan juga kerap menjadi pemicu fatal. Suasana ceria atau euforia dari penumpang di dalam kabin sering kali memengaruhi gaya berkendara sang sopir di trek yang menantang.
"Aktivitas dan euforia dari penumpang yang kadang suka membuat suasana lebih, membuat pengemudi bersemangat dan agresif dalam mengemudinya. Ini bahaya!" tuturnya.
Oleh karena itu, Sony menekankan pentingnya pembinaan mental bagi para pelaku jasa jip wisata. Keterampilan menyetir yang mumpuni harus diimbangi dengan kedewasaan sikap saat membawa penumpang.
"Kembali lagi kepada kompetensi pengemudinya dalam mengontrol diri dan emosinya. Sudah harus dibenahin ulang sih," kata Sony.