GridOto.com - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhir-akhir ini berimbas ke sektor otomotif.
Salah satunya yang paling terasa adalah kenaikan harga oli dan spare part.
Tak cuma nilai tukar melemah, mahalnya harga ini ditambah seiring naiknya harga bahan baku berbasis minyak dan komponen impor.
Sejumlah komponen lain seperti ban, baut, vanbelt, hingga spare part berbahan logam juga mulai mengalami penyesuaian harga.
Pemilik bengkel menyebut kenaikan rata-rata berada di kisaran 20 hingga 30 persen untuk beberapa produk impor.
Pemilik bengkel Quick Service, Indra Kurniawan, mengatakan pihaknya saat ini masih berusaha menahan kenaikan tarif servis demi menjaga loyalitas pelanggan, meski harga oli sudah melonjak cukup tinggi.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Daihatsu Berencana Lokalisasi Komponen yang Masih Impor
“Untuk sementara waktu kita menurunkan profit untuk menjaga customer, walaupun harga oli sudah naik 20 persen,” ujar Indra melansir Kompas.com, belum lama ini.
Hal serupa juga diungkap pemilik bengkel Dokter Mobil, Lung Lung.
Menurutnya, kenaikan biaya tidak hanya terjadi pada oli, tetapi hampir seluruh kebutuhan operasional bengkel.
“Iya, naik. Semua bahan dasar naik, oli, chemicals, parts. Jadi sudah pasti sebentar lagi akan naik semua harga,” kata Lung Lung.
Meski begitu, Lung Lung menyebut pihak bengkel saat ini masih belum menaikkan harga layanan kepada konsumen.
“Tapi kalau sekarang belum (naik),” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat banyak bengkel berada dalam posisi dilematis.
Di satu sisi biaya operasional meningkat, namun di sisi lain mereka harus menjaga agar pelanggan tidak menunda servis kendaraan akibat biaya perawatan yang semakin mahal.