Dolar AS Tembus Rp 17.500, Toyota Masih Coba Jaga Harga Mobil

Wisnu Andebar - Minggu, 17 Mei 2026 | 16:24 WIB

Marketing Director TAM, Bansar Maduma

GridOto.com - PT Toyota Astra Motor (TAM) berupaya menahan harga jual mobil di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini telah menembus level Rp 17.500.

Marketing Director TAM, Bansar Maduma, mengatakan pihaknya terus memantau kondisi pasar dan berupaya semaksimal mungkin agar dampak kenaikan kurs tidak dibebankan langsung kepada konsumen.

"Namun yang pasti kami selalu monitor adalah bagaimana customer kami. Kita tidak mau bahwa ini semua dibebankan oleh customer," ujar Bansar saat ditemui di Jakarta, Sabtu (16/5/2026).

Menurutnya, menjaga kepercayaan pelanggan menjadi prioritas utama Toyota.

Karena itu, perusahaan berupaya untuk menyerap sebagian tekanan biaya agar konsumen tetap bisa memiliki kendaraan Toyota dengan harga yang kompetitif.

"Kami semaksimal mungkin untuk bisa mengurangi impact yang terjadi di customer. Sehingga customer juga lebih trust kepada merek Toyota, dan pastinya kami ingin support mobilitas mereka semua," kata Bansar.

Bansar menegaskan, hingga saat ini Toyota masih berusaha menjaga harga jual produknya di Indonesia.

Meski begitu, perusahaan akan terus memantau perkembangan kurs dan kondisi ekonomi ke depan.

"Untuk saat ini kami masih mencoba menjaga," ucapnya.

Baca Juga: Varian GR Makin Diminati, Kontribusinya ke Penjualan Toyota Tak Main-Main 

Sebagai strategi untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga akibat dolar yang terus menguat, Toyota tidak bekerja sendiri.

TAM menggandeng seluruh ekosistem bisnis Toyota, mulai dari pemasok komponen, manufaktur, hingga jaringan dealer.

"Terkait hal ini, pastinya kami akan bekerja sama dengan Toyota Group," ujar Bansar.

Ia menjelaskan, upaya menahan dampak kurs dilakukan melalui koordinasi intensif dengan seluruh rantai pasok agar efisiensi bisa dilakukan di berbagai lini.

"Kami bukan hanya sebagai distributor, tapi juga kami disupport oleh manufacturer dan juga supplier. Kami berdiskusi dengan mereka, terus bagaimana bisa mengurangi impact terhadap kenaikan eksternal ini," katanya.

Menurut Bansar, produksi kendaraan melibatkan banyak pihak sehingga penanganan dampak pelemahan rupiah juga harus dilakukan secara kolektif.

"Kita tidak bisa bekerja sendiri. Karena membuat kendaraan itu pastinya dibutuhkan satu rangkaian produksi, dari supplier tier 3 sampai tier 1, sampai manufacturer, sampai ke kita, sampai pun ke dealer. Jadi kita satu sebagai Toyota Indonesia untuk mengurangi impact tersebut," ujarnya.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Minggu (17/5/2026) tercatat berada di level Rp 17.602 per dolar AS.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi dan impor komponen, yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga kendaraan di pasar domestik.

YANG LAINNYA