Harga Minyak Dunia Meledak Lagi, Imbas Kebijakan Selat Hormuz Antara AS-Iran Buntu

Ferdian - Senin, 20 April 2026 | 16:30 WIB

Dua kapal tanker Pertamina Indonesia mencoba melintas di selat Hormuz

Iran pun bersumpah akan melakukan pembalasan.

Lonjakan harga pada Minggu ini menghapus sebagian besar penurunan sebelumnya, sekaligus mencerminkan kembali kekhawatiran pasar terkait lambatnya pemulihan distribusi minyak dari Timur Tengah.

Konflik antara AS, Israel, dan Iran yang kini memasuki pekan kedelapan telah memicu salah satu krisis energi global terburuk dalam beberapa dekade.

Negara-negara di Asia dan Eropa yang bergantung pada impor minyak dari kawasan Teluk merasakan dampak paling besar akibat terganggunya pasokan dan turunnya produksi.

Kenaikan harga BBM mulai dari bensin hingga bahan bakar jet juga membebani pelaku usaha dan konsumen di seluruh dunia.

Sejak pecahnya konflik pada 28 Februari 2026, harga minyak memang sangat fluktuatif.

Melansir Tribunnews, dari kisaran sekitar Rp1,12 juta per barel ($70), harga sempat melonjak hingga lebih dari Rp1,9 juta per barel ($119), sebelum ditutup pada Jumat di sekitar Rp1,32 juta per barel untuk minyak AS dan Rp1,44 juta per barel untuk Brent.

Para analis memperingatkan bahwa semakin lama Selat Hormuz tertutup, semakin besar potensi kenaikan harga minyak.

Baca Juga: Protokol di Selat Hormuz Diperketat, Begini Nasib Kapal Tanker Pertamina

Iran pun menegaskan akan terus membatasi kapal yang melintas selama blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya masih berlangsung.

Di sisi lain, upaya mediasi untuk memperpanjang gencatan senjata yang akan berakhir pada Rabu (22/4/2026) terus dilakukan.

Namun, kebijakan blokade dari kedua pihak memperumit proses negosiasi yang dimediasi Pakistan.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan negara lain melintasi Selat Hormuz jika Iran sendiri tidak bisa.

Meski begitu, ia menyatakan Iran tetap berupaya mencapai perdamaian, meskipun kesenjangan dengan AS masih besar dan sejumlah isu mendasar belum terselesaikan.

Situasi di Selat Hormuz pun kembali tegang. Setelah sempat ada peningkatan aktivitas kapal pada Sabtu, banyak kapal memilih menahan posisi setelah dua kapal berbendera India ditembak dan dipaksa berbalik.

Kondisi ini membuat jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia kembali tersendat, memperbesar risiko krisis energi global dan potensi eskalasi konflik lebih lanjut.

YANG LAINNYA