"Klaster luarnya itu gerbang. Nah klaster masuk rumah ya ini GPS, program lanjutan untuk antisipasi pencegahan curanmor,” kata dia.
Dengan alat tersebut, warga dapat melacak keberadaan motor mereka selama perangkat nirkabel itu terpasang.
Setelah satu bulan penerapan gerbang akses digital, Ibas mengklaim terjadi penurunan kebisingan dari kendaraan bermotor yang melintas di gang tersebut.
Ia berharap, dengan sistem pengamanan berlapis ini, warga dapat beristirahat lebih tenang tanpa gangguan keamanan dan ketertiban.
Ke depan, ia juga menargetkan pemanfaatan dana operasional RT untuk meningkatkan kesejahteraan warga.
"Saya kepikirannya bikin EO (event organizer) karena kan suka ada yang bikin hajatan. Tapi ini masih rencana, belum pasti," ungkap dia.
Baca Juga: Sudah Tiga Kali Terjadi, Korban Teror Air Keras di Bekasi Mulai Toyota Fortuner Sampai Warga
Sebelumnya diberitakan, Ketua RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Imam Basori, menerapkan inovasi baru untuk memberikan keamanan warganya dari ancaman tindak pencurian kendaraan bermotor (curanmor).
Dia menggunakan dana operasional yang didapat dari Pemerintah Kota Jakarta Selatan untuk Ketua RT untuk membeli seluruh alat termasuk mesin tap kartu dan besi pagar.
"Jadi semua mandiri. Kami ngegergaji sendiri, motong sendiri, ngelas sendiri. Jadi semuanya tidak menggunakan vendor, tidak menggunakan jasa kontraktor khusus yang profesional," ungkap Ibas saat ditemui, (4/3/26) lalu.
Gerbang ini ditutup sejak pukul 00.00 WIB hingga 06.30 WIB dengan penjaga yang ditugaskan secara bergantian.
Setiap rumah dibekali satu kartu akses yang bisa digunakan.
Ibas berharap, seluruh lingkungan RW 7 dapat terkoneksi dengan gerbang ini untuk meningkatkan keamanan warga sekitar.