GridOto.com - Pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) memastikan bahwa pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional saat ini masih dalam kondisi aman, meskipun pasar energi global tengah bergejolak.
Namun, CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, mengingatkan bahwa ketahanan energi Indonesia tetap memiliki kerentanan karena ketergantungan terhadap impor minyak yang mencapai sekitar 60 persen dari total kebutuhan.
Menurutnya kondisi stok BBM yang relatif terjaga saat ini patut diapresiasi, terutama saat beberapa negara lain mulai mengalami krisis energi.
Meski begitu, ia menegaskan kalau situasi yang dihadapi saat ini bukanlah kondisi normal, sehingga potensi gangguan pasokan tetap perlu diwaspadai.
"Yang harus dipahami bahwa kita sedang dalam kondisi krisis. Dalam kondisi normal, cadangan (BBM) 21 hari itu mungkin aman. Tapi ini kondisinya tidak normal karena ada gangguan impor," ujar Fabby melansir Kompas.com, Kamis (15/4/2026).
Ia menjelaskan, gangguan pada jalur impor minyak mentah dan BBM, khususnya dari kawasan Timur Tengah, bisa berdampak langsung terhadap ketahanan energi nasional. Pasalnya, Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Secara struktur, kebutuhan BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara itu, kapasitas produksi kilang dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 1 juta barel per hari.
Di sisi lain, produksi minyak mentah domestik juga belum mencukupi, yakni sekitar 600.000 barel per hari.
Baca Juga: Kasus Fraud Terungkap, Pertamina PHK Awak Truk Tangki BBM di Tuban
Kondisi ini membuat Indonesia harus mengimpor sekitar 400.000 barel minyak mentah untuk diolah di kilang, serta tambahan sekitar 600.000 barel BBM siap pakai dari luar negeri.
"Jadi kalau dijumlahkan, sekitar 1 juta barrel atau 60 persen dari kebutuhan minyak kita, baik BBM maupun minyak mentah, berasal dari impor," katanya.
Fabby menilai ketergantungan ini menjadi titik lemah, terlebih di tengah konflik yang telah berlangsung lebih dari 45 hari di kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut turut mengganggu sebagian jalur distribusi impor BBM.
Akibatnya, meskipun pasokan dalam negeri masih aman untuk jangka pendek, ancaman kelangkaan tetap ada jika gangguan terus berlanjut.
"Jadi walaupun aman, tetapi riskan. Nah, karena itu makanya kita harus lebih bijaksana mengonsumsi BBM supaya tidak terjadi kelangkaan," ucapnya.
Dalam kondisi seperti ini, Fabby menekankan pentingnya peran semua pihak. Pertamina bertanggung jawab menjaga kelancaran distribusi, sementara pemerintah memastikan ketersediaan pasokan secara nasional.
Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan menyesuaikan pola konsumsi energi.
Baca Juga: Protokol di Selat Hormuz Diperketat, Begini Nasib Kapal Tanker Pertamina
Ia mengingatkan bahwa penggunaan BBM tidak bisa lagi disamakan dengan kondisi normal, karena berpotensi menambah tekanan pada pasokan.
"Pola kita membeli, mengonsumsi BBM juga harus berubah. Tidak seperti saat pasokan BBM itu normal, atau pasokan minyaknya normal. Jadi, lebih punya kesadaran diri sebenarnya," katanya.
Fabby juga mendorong langkah-langkah sederhana untuk menghemat BBM, seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, beralih ke moda transportasi alternatif, serta menunda perjalanan yang tidak mendesak.
Ia mencontohkan bahwa perjalanan jarak jauh untuk rekreasi sebaiknya dikurangi dalam situasi seperti saat ini agar konsumsi BBM bisa ditekan.
"Hal-hal seperti perjalanan jauh yang tidak terlalu penting, itu bisa ditahan dulu. Intinya, kita harus lebih bijak dalam menggunakan BBM," pungkasnya.