Demi Bisa Beli Solar, Sopir Mobil Jenazah di Thailand Sampai Tunjukkan Mayat ke Pegawai SPBU

Irsyaad W - Rabu, 1 April 2026 | 08:23 WIB

Sopir mobil jenazah di Thailand tunjukan mayat yang diangkut demi bisa solar

GridOto.com - Pemerintah Thailand menghentikan upaya pembatasan harga atau price cap yang dinilai terlalu membebani anggaran negara.

Keputusan Pemerintah Thailand untuk memangkas subsidi itu diumumkan Rabu malam, (25/3/26).

Krisis ini sampai membuat sopir mobil jenazah di sana terpaksa menunjukkan mayat ke pegawai SPBU demi bisa beli solar.

Preecha Ngernkasem, seorang petugas kuil yang bertugas mengurus kremasi, terpaksa menunjukkan jenazah di dalam mobilnya ke petugas SPBU demi mendapatkan solar.

Aksi nekat ini dilakukan Preecha setelah permintaannya untuk mengisi jeriken ditolak oleh petugas SPBU.

Saat itu, dia sedang dalam perjalanan membawa jenazah seorang tunawisma tak dikenal dari sebuah rumah sakit di Provinsi Chonburi untuk dikremasi secara Buddha.

Dalam sebuah video yang disiarkan langsung melalui Facebook, Preecha terlihat turun dari mobil jenazah dan menghampiri petugas SPBU yang enggan melayaninya.

Dia kemudian membuka pintu belakang mobil dan mengangkat tutup peti mati agar petugas yang tertegun itu bisa melihat mayat di dalamnya.

"Anda menolak menjual bahan bakar kepada saya, jadi saya harus menunjukkan alasan mengapa saya membutuhkannya," ujar Preecha dalam video tersebut.

Melihat pemandangan tersebut, petugas SPBU sempat tertawa canggung sebelum rekan sejawatnya turun tangan.

Baca Juga: Thailand Menyerah, Harga BBM Hampir Mirip Pertalite Meroket Jadi Rp 20 Ribuan Per Liter

Akhirnya, manajer SPBU bersedia untuk menjual BBM ke Preecha, sebagaimana dilansir AFP.

Preecha membutuhkan tiga jeriken masing-masing berkapasitas 18 liter diesel untuk proses satu kali pembakaran jenazah.

Kepada AFP, (30/3/26), Preecha mengonfirmasi bahwa jenazah tersebut telah dikremasi dengan layak pada Sabtu sore, (28/3/26).

Dia mengaku sangat menyesalkan situasi yang mengharuskannya melakukan tindakan ekstrem tersebut.

"Saya belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya, dan saya tidak pernah menyangka akan melakukannya," ungkapnya.

Dia pun menyarankan agar pihak SPBU bersedia menjual bahan bakar jika pembeli menunjukkan surat keterangan kematian dari rumah sakit.

Diketahui, kelangkaan BBM di Thailand merupakan imbas dari gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah yang masih berkecamuk sampai sekarang.

Teheran pun memperlambat pengiriman minyak melalui Selat Hormuz hingga menyisakan aliran kecil.

Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), lebih dari 80 persen minyak mentah dan gas alam cair (LNG) yang melewati jalur sempit tersebut ditujukan ke Asia.

Hal ini menyebabkan banyak wilayah di Asia Tenggara mengalami kesulitan pasokan bahan bakar.

Baca Juga: Filipina Dilanda Krisis BBM, Ratusan SPBU Tutup dan Sopir Transportasi Mogok

Pemerintah Thailand sendiri awalnya menetapkan batas atas harga solar sebelum akhirnya menaikkan limit sebesar 6 baht (sekitar Rp 2.600) per liter pada pekan lalu.

Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul telah menyampaikan permohonan maaf atas gangguan publik yang terjadi dan berharap konflik tersebut segera berakhir.

"Konflik tersebut mungkin tidak akan berlangsung lama," ujar Anutin.

Dia juga menambahkan bahwa kesepakatan telah dicapai dengan Iran untuk mengizinkan kapal minyak Thailand melintasi Selat Hormuz dengan aman.

YANG LAINNYA