Baca Juga: Mencekam, Filipina, Bangladesh dan Korsel Umumkan Darurat Energi dan Krisis BBM
Sebagai gantinya, pemerintah akan menawarkan bantuan yang lebih terarah bagi kelompok yang paling terdampak, seperti konsumen kurang mampu, petani dan pengemudi truk.
Menteri Keuangan Thailand, Ekniti Nitithanprapas mengungkapkan kebijakan pembatasan harga selama ini telah memicu masalah di lapangan.
"Batas harga telah menyebabkan distorsi pasar, penimbunan, dan kerugian anggaran yang tidak perlu," kata Menteri Keuangan, Ekniti Nitithanprapas.
Meskipun subsidi masih diberikan melalui Dana Bahan Bakar Minyak, nilainya jauh lebih rendah dari sebelumnya.
Subsidi untuk high-speed diesel dan solar B20 dikurangi dari 26,99 baht (Rp 13.889) menjadi 19,12 baht (Rp 9.839) per liter.
Untuk Gasohol E20 turun dari 12,85 baht (Rp 6.612) menjadi 5,94 baht (Rp 3.056).
Sementara itu Gasohol 95 dan 91 yang sebelumnya disubsidi 9,73 baht (Rp5.007) kini hanya disubsidi 3,26 baht (Rp 1.677).
Sementara itu, subsidi sebesar 4,28 baht (Rp 2.202) untuk Gasohol E85 telah dihapus sepenuhnya.
Tingkat konsumsi solar di Thailand sendiri biasanya mencapai angka rata-rata 65 juta liter per hari.