Tas itu kemudian dibawa ke pos untuk disimpan sementara.
“Kami temukan tas tersebut saat patroli, kemudian langsung kami amankan di pos untuk menjaga keamanan barang hingga pemiliknya ditemukan,” ujarnya.
Sementara itu, perjalanan Neneng terus berlanjut hingga Magetan.
Jalan panjang, rasa lelah, dan mungkin kelegaan karena hampir sampai tujuan membuatnya tak langsung menyadari apa yang tertinggal.
Hingga akhirnya, di rumah, rasa panik itu datang, tas yang ia bawa sejak awal perjalanan tak lagi bersamanya.
"Pemilik merupakan pemudik asal Kabupaten Purwakarta menuju Magetan, pemilik baru menyadari tasnya tertinggal setelah tiba di rumah tujuan di Magetan," katanya melansir TribunSolo.
Baca Juga: Antrean Horor Kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk Berujung Maut, Satu Pemudik Meninggal Dunia
Keputusan pun diambil tanpa banyak pertimbangan.
Ia kembali menempuh perjalanan, menyusuri jarak yang baru saja dilewati, demi satu tas yang bagi orang lain mungkin tampak biasa.
"Setelah menyadari barang miliknya hilang, tanpa ragu, ia segera kembali menempuh perjalanan menuju Rest Area 538 A Sragen demi mengambil barang berharganya tersebut," kata dia.
Sesampainya di lokasi, tas itu masih ada. Utuh, lengkap, tanpa ada yang berubah.
Di dalamnya, bukan hanya perlengkapan make up, tapi juga ikat rambut kain milik anaknya, benda kecil yang menyimpan makna besar.
“Dia sangat berterima kasih. Tasnya kembali utuh, padahal isinya cukup berharga, selain alat make-up, pemudik sebut ada barang yang dicari anaknya, yaitu kuciran rambut dari kain," jelas Toto.
"Katanya kalau nggak ada barang itu, anaknya selalu sakit-sakitan dan menangis, jadi isi barang itu sangat berharga walau jauh, pemudik itu tetap mencari,” ungkapnya.
Di tengah riuhnya arus mudik, kisah ini menyisakan satu hal sederhana: bahwa perjalanan bukan hanya soal sampai tujuan, tapi juga tentang hal-hal kecil yang kadang terlupa, dan betapa berharganya ketika berhasil kembali.