Tak hanya itu, sayap sampingnya menggunakan bodi multilayer yang membuatnya terlihat padat dan modern.
Keunikan utama Yamaha Lexam terletak pada sensasi berkendaranya.
Itu karena ia lahir tanpa adanya kopling layaknya motor bebek, ia hadir dengan transmisi otomatis yang tinggal gas, layaknya matic zaman sekarang.
Bahkan termasuk tuas remnya yang semuanya sudah dindahkan ke area setang seperti motor matic kekinian.
Konsep ini agak beda dengan pesaingnya saat itu, Honda Revo AT, yang sama-sama merupakan bebek-matic, tapi masih mempertahankan rem belakang ada di area kaki.
Makanya area pijakan kaki Yamaha Lexam menjadi sangat bersih karena tidak ada pedal kopling maupun pedal rem belakang.
Di balik bodinya yang tajam, tertanam mesin 4-tak berkapasitas 113,7 cc berpendingin udara yang mampu menghasilkan tenaga 8,69 dk.
Sistem penyaluran tenaganya pun tergolong unik karena mengandalkan sistem CVT yang kemudian diteruskan ke roda belakang menggunakan rantai dan gir layaknya motor bebek konvensional.
Namun, sejarah mencatat bahwa keberanian Yamaha Lexam tidak berbuah manis di pasar Indonesia.
Masyarakat saat itu nampaknya masih merasa asing dengan konsep gado-gado ini.
"Bebek ya bebek, matic ya matic," mungkin itulah pemikiran yang membuat penjualannya lesu.
Banyak yang merasa tanggung untuk memiliki motor bebek tapi tidak bisa pindah gigi, atau sebaliknya, ingin matic tapi tetap harus merawat rantai.
Akhirnya perjalanan Yamaha Lexam harus terhenti pada Desember 2013 setelah hanya dua tahun menghiasi jalanan Tanah Air.