“Kalau baru jualan sebulan seribu unit, setahun 15 ribu, sudah mau beli tanah, mau bangun pabrik, investasi triliunan, apa begitu?” katanya.
Meski demikian, Jongkie menilai langkah membangun pabrik sendiri sebagai sesuatu yang positif bila memang didukung kesiapan pasar.
Ia mencontohkan sejumlah produsen kendaraan listrik yang berani memulai investasi dari nol di Indonesia.
“Kalau mau begitu, bagus. BYD kan dari nol dia investasi. VinFast dari nol dia investasi,” ujarnya.
Namun, Jongkie juga memahami bahwa tidak semua merek memiliki pendekatan yang sama.
Banyak produsen memilih untuk menguji pasar terlebih dahulu sebelum memutuskan investasi besar.
“Ada merek yang mikirnya lain. Coba tes dulu deh, tes pasar dulu. Kalau berjalan, bagus, nanti baru investasi,” tambahnya.
Saat ini, PT Handal Indonesia Motor tercatat merakit kendaraan untuk sekitar sembilan merek otomotif, mayoritas berasal dari China.
Jongkie menegaskan bahwa Handal bersikap terbuka terhadap siapa pun yang ingin masuk dan memanfaatkan fasilitas perakitannya.
“Sembilan merek kurang lebih. Ya enggak apa-apa. Saya kan buka pintu,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa skema investasi bertahap juga diperbolehkan dan sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Jika suatu saat prinsipal memutuskan membangun pabrik sendiri, Handal tidak akan menghalangi.
“Kalau investasi sedikit dulu, ya boleh. Masuk saja. Nanti kalau suatu hari dia bilang mau bikin pabrik sendiri, ya silakan. Enggak ada yang ngelarang. Dan boleh memang, secara peraturan boleh,” tuturnya.
Sebagai informasi, PT Handal Indonesia Motor saat ini memproduksi untuk sejumlah merek seperti Chery dan Jetour.
Selain itu, fasilitas Handal juga menampung merek Xpeng, Geely, Aletra, BAIC, hingga Jaecoo, termasuk di fasilitas baru yang tengah dikembangkan.
Terbaru, Handal juga dipastikan akan merakit lokal merek kendaraan niaga listrik asal China, Farizon.