Pasar Mobil Masih Seret, Industri Otomotif Masuk 2026 dengan Banyak Tanda Tanya

Naufal Shafly - Rabu, 14 Januari 2026 | 20:00 WIB

Ilustrasi penjualan mobil baru (Naufal Shafly - )

Selain faktor global, Bob menegaskan bahwa ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada harga komoditas.

Pergerakan harga komoditas akan berdampak langsung pada penerimaan negara dan daya beli masyarakat.

"Jadi Indonesia itu sangat ditentukan oleh harga komoditas. Nah nanti kita lihat ketegangan politik apakah akan meningkatkan harga komoditas atau justru menurunkan harga komoditas?" paparnya.

"Kalau misalnya meningkatkan harga komoditas ya mungkin dampaknya bagus bagi Indonesia. Tapi kalau misalnya ekonominya turun, konsumsi turun, kemudian demand turun, itu akan berbahaya kepada Indonesia,” tambahnya.

Tantangan lain datang dari sektor keuangan, khususnya terkait likuiditas dan penyaluran kredit.

Bob mencatat bahwa pertumbuhan kredit perbankan dalam beberapa tahun terakhir terus melambat.

“Kalau kita lihat kan dalam berapa tahun ini laju kredit turun terus. Dulu kita 2 digit, 20 persen lebih loh pertumbuhan kredit. Sekarang pertumbuhan kredit udah turun sampai 7 persen,” katanya.

Padahal, di sisi lain industri otomotif sangat bergantung pada pembiayaan.

Bob menyebut sekitar 70 hingga 80 persen pembelian kendaraan dilakukan melalui skema kredit.

Dengan melambatnya pertumbuhan kredit ini, tekanan terhadap penjualan mobil pun semakin besar.