Nestapa Pekerja Jerambah Pelabuhan Gilimanuk, Sodorkan Karcis Rp 4.000 Dituding Pungli

Irsyaad W - Kamis, 8 Januari 2026 | 17:30 WIB

Pekerja jasa angkat jerambah di pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali yang dituding lakukan pungli Rp 4.000 ke pengemudi mobil yang hendak masuk kapal (Irsyaad W - )

Setiap harinya, ada 14 orang yang bekerja dengan waktu kerja per regu selama 24 jam.

Sehingga, seluruh anggota bekerja secara bergantian setiap harinya.

Kemudian, setiap kendaraan dari jasa jerambah berbeda. Misalnya jasa jerambah untuk truk Rp 5.000 dan mobil Rp 4.000.

Informasi lainnya, para pihak di Pelabuhan Gilimanuk sedang melakukan rapat koordinasi untuk membahas soal tudingan atau dugaan pungli terkait jasa jerambah di dermaga LCM Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana tersebut.

"Kami memberikan jasa jerambah kepada kendaraan yang akan naik maupun turun kapal agar aksesnya lebih mudah," kata Perwakilan pekerja jerambah, M. Salim.

Baca Juga: Pelaku Pungli di Gerbang Tol Kramasan Jongkok Lemas, Alibi Bantu Lalin Terbantahkan

Menurutnya, jasa jerambah di dermaga LCM Pelabuhan Gilimanuk tersebut sudah ada sejak dulu dan berjalan bertahun-tahun.

Tugas mereka adalah memasang tali kapal besar yang dilipat menyerupai keset antara landasan dermaga plengsengan dengan ujung pintu kapal.

Tujuannya agar motor, mobil dan truk yang akan keluar dan masuk lebih mudah, tidak terhalang ujung pintu kapal yang lebih tinggi dengan landasan plengsengan

Pihaknya saat ini juga berkoordinasi dengan pihak ASDP Pelabuhan Gilimanuk, kepolisian dan jerambah ketapang agar tidak dianggap pungli oleh masyarakat, terutama yang menuding.

"Kami bukan pungli, kami menawarkan jasa," tegasnya.

Jasa jerambah ini, kata dia, juga merupakan lapangan pekerjaan warga.

Jika nantinya jasa ini dianggap pungli dan pada akhirnya dihentikan, maka para anggota yang merupakan tulang punggung keluarga akan menganggur.

Baca Juga: Mencengangkan, Sopir Truk ODOL Blak-blakan Pungli Oknum Aparat di Jakarta Capai Rp 3 Juta

IG/@infobanyuwangi
Dua pekerja jasa angkat jerambah di dermaga LCM pelabuhan Gilimanuk yang dituding melakukan pungli Rp 4.000 jasa keset

"Semua pendapatan dibagikan kepada semua anggota dan untuk biaya pembelian jerambah," ujarnya.

Terpisah, Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jembrana, Sukirman menjelaskan jasa jerambah tersebut sudah ada sejak dulu, bahkan sebelum ada pelabuhan modern dan berjalan bertahun-tahun.

Menurutnya, pungutan jasa jerambah tersebut tidak memaksa. Artinya, para pengguna jasa yang merasa keberatan diperbolehkan untuk tidak membayar.

"Biasanya sopir mobil besar atau truk barang langsung memberikan uang tanpa diminta karena mereka tahu fungsinya," terang Sukirman.

"Karena mereka tidak hanya memasang jerambah atau keset itu, tapi juga membersihkan pasir di areal dermaga untuk memastikan kendaraan berjalan dengan aman," tandasnya.