Cerita Rafhi, Berinovasi Ciptakan Alat Pendeteksi Jarak Fisik untuk Jaga Protokol Kesehatan

Nana Triana - Jumat, 20 November 2020 | 12:26 WIB

M Rahfi Rihadatusyawal menangkan predikat Gold di AHMBS 2020 berkat kreativitasnya temukan perangkat penjaga jarak aman selama pandemi. (Nana Triana - )

“Kami senang sekali dengan semangat dan karya peserta AHM Best Student tahun ini. Mereka berkreasi seperti tidak sedang menghadapi pandemi. Kami berharap dapat selalu mendukung karya generasi muda yang inovatif dan kreatif di Indonesia,” ujar GM Corporate Communication AHM Ahmad Muhibbuddin.

Proses penjurian dilakukan sejak Agustus. Kemudian, karya peserta yang lolos di level regional mendapat kesempatan diikutkan dalam seleksi nasional yang melibatkan juri dari kalangan praktisi dan ahli.

Baca Juga: Rayakan Ulang Tahun Ke-3, Rebel Owner Community Bagikan 10.000 Masker

Dewan juri berasal dari Pusat Prestasi Nasional Kementrian Pendidikan dan kebudayaan,  Kampus PPM Manajemen, dan internal manajemen AHM. Mereka menguji siswa dari berbagai aspek kompetensi.

Juri memberi penilaian terhadap kekreativitasan gagasan, dampak yang dihasilkan, kemungkinan keberhasilan penerapan, kekuatan penyajian data dan sumber informasi, serta kemampuan presentasi yang dimiliki. Tahun ini terdapat 12 peserta yang lolos uji tahap nasional. Salah satunya, karya Rahfi.  

Diikuti siswa dari barat hingga timur Indonesia

Kreativitas dan inovasi tinggi juga ditunjukkan peserta AHM Best Student 2020 lainnya, seperti Susilowati S. dari SMA Negeri 3, Papua.

Dia membuat karya orisinil yang memanfaatkan tanaman endemik Papua, yaitu buah merah. Ia mengolah buah tersebut menjadi sambal yang cocok dijadikan oleh-oleh khas Papua. 

Baca Juga: Honda BeAT Makin Keren Pakai Baju Repsol MotoGP dan Aksesori Mewah

Selain itu, ada Salsabila Tri Rahmi dari SMA Negeri 1 Sitiung, Sumatera Barat yang juga meraih predikat Gold dalam ajang AHM Best Student 2020. Ia mencoba membantu peningkatan hasil panen petani lokal dengan mengembangkan inovasi pemberantas hama ramah lingkungan dan pupuk organik yang terbuat dari jengkol dan keong mas.

Dari Indonesia Tengah ada Theresia Febriana Meo, siswa SMK Negeri 5 Berau, Kalimantan Timur yang berhasil mengembangkan karya solusi tepat guna dengan memanfaatkan barang-barang bekas.

Ia memanfaatkan barang bekas untuk dijadikan alat penepung bagi beras, ketan, ketumbar, merica, dan sawut ubi. Kehadiran alat ini dapat menggantikan peran alat penepung modern yang sulit ditemukan di pelosok negeri.

Sementara I Putu Evan Priya Saguna dari SMA Negeri 4 Denpasar, Bali menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat yang berkebutuhan khusus. Ia mengembangkan perangkat elektronik sebagai alat bantu berjalan penyandang tuna netra yang dapat mendeteksi guiding block, sehingga meminimalisasi kesulitan saat berjalan di trotoar.

Selain memperoleh apresiasi berupa penghargaan AHM pun membekali siswa-siswa tersebut dengan materi-materi bermanfaat di Seminar Inspirasi yang digelar pada puncak kompetisi.