Bukan Pakai Lampu Sein, Ternyata Mobil Zaman Dulu Kalau Belok Pakai Tanda Ini

Dida Argadea - Jumat, 26 Juni 2020 | 10:45 WIB

Mobil zaman dulu (Dida Argadea - )

GridOto.com - Sobat GridOto pasti enggak asing dengan lampu sein dong?

Lampu sein ini memang jadi hal wajar saat ini.

Bahkan kerap bikin kesal juga, misalnya kalau ada pengendara lain suka sein kiri tapi belok kanan.

Tapi sebelum semua itu terjadi, kalian tahu enggak asal mula lampu sein?

Pada peralihan abad ke-18, mobil berbahan bakar bensin sudah banyak karena dinilai lebih cepat dari tenaga kuda.

Karena lebih cepat dan efisien, penggunaan mobil sering menimbulkan kecelakaan.

Baca Juga: Street Manners: Kapan Sebaiknya Menyalakan Lampu Sein Saat Bermotor? 

Kecelakaan yang sering terjadi adalah tabrakan pada saat ditikungan.

Untuk mengurangi risiko kecelakaan, di tahun 1920-an pabrik kendaraan di Jerman mulai menciptakan lonceng dan peluit uap.

Lonceng tersebut dipasangkan pada kendaraan mereka dan berfungsi sebagai tanda untuk berbelok.

Jika lonceng berbunyi sekali, tandanya mobil akan berbelok ke kanan.

Jika lonceng berbunyi dua kali, berarti mobil akan berbelok ke kiri.

Sayangnya penggunaan lonceng sebagai tanda belok ini pun tidak efektif karena ramainya aktivitas lalu lintas.

Bunyi lonceng justru membingungkan pengguna mobil lainnya karena kerap terdengar bersahut sahutan.

Lampu baru dipakai pada tahun 1930, saat itu lampu ini ditambahan di bagian kanan dan kiri seperti lampu sein zaman sekarang.

kaskus.co.id
Salah satu desain lampu sein di mobil klasik

Baca Juga: Yamaha Jupiter MX 135 Masih Eksis di Malaysia, Desainnya Juga Masih Di-update Lho

Pakai cara ini, pengguna kendaraan hanya perlu menekan tombol yang telah tersambung dengan lampu indikator.

Alat inilah yang dinamakan lampu sein dan masih digunakan hingga saat ini pada mobil dan kendaraan lainnya.

Kata sein sendiri sebenarnya adalah bahasa yang diserap oleh masyarakat Indonesia dari bahasa Inggris, sign yang berarti tanda.

Selain sein ada juga yang menyebutnya riting, adalah bahasa Jawa untuk sein yang diserap dari bahasa Belanda, richting yang berarti arah.