Otojadul: Nostalgia si Oranye Metro Mini, Dari Sopir Ugal-ugalan hingga Jadi 'Battle Cruiser' Buat Dipakai Tawuran

Ditta Aditya Pratama - Kamis, 28 Mei 2020 | 20:57 WIB

Metro Mini tahun 1998 (Ditta Aditya Pratama - )

GridOto.com - Ngomongin bus kota era tahun 1990-an terutama si oranye MetroMini selain jadi sarana transpotasi, seru buat dikenang karena tingkahnya kayak raja jalanan hingga dibajak anak SMA.

Antara MetroMini dan anak SMA, memang ada kisah love and hate relationship. Anak SMA jadi salah satu pendapatan operator bus kota namun kerap bikin rugi karena busnya bonyok dipakai tawuran atau sekadar ditumpangi dan enggak mau bayar.

Jelas anak-anak zaman sekarang sudah jarang atau enggak lagi mengalami masa-masa 'outlaw' gelantungan hingga duduk sampai ke atap bus.

Penulis sendiri dulu sempat merasakan berdesakan sampai bus miring dan nyaris oleng akibat dipenuhi anak SMA yang ingin tawuran.

Baca Juga: Otojadul: Penonton Road Race Mojokerto Bebas Wara-wiri di Paddock Bikin Pembalap Gondok

Kocaknya, bagian dalam kosong namun yang penuh justru di pintu sehingga rasa-rasanya bus mau terguling setiap belok ke kiri.

Paling sial memang saat bersekolah namun terpaksa menggunakan bus yang rutenya melewati sekolah lawan, alamak dag-dig-dug rasanya setiap ada yang naik.

Meski enggak buat dipakai tawuran, seringkali anak-anak SMA memang sengaja bergelantungan di pintu hingga duduk di atap biar enggak ditagih bayaran.

Begitu kenek sudah mulai kecrek-kecrek, yang di pintu lompat berhamburan dan pindah ke bus lain. Mission Accomplished!

Johan / Tabloid OTOMOTIF edisi 1998
Metromini yang dipakai gelantungan oleh anak SMA sudah jadi pemandangan biasa di tahun 1990an

Meski begitu, ternyata sejarah MetroMini ini ternyata cukup panjang lho... Yuk disimak cerita Otojadul kali ini...

MetroMini awalnya enggak langsung bernama MetroMini, dulu pun enggak langsung berwarna oranye-biru yang diingat banyak orang.

Kalau ditarik dari sejarahnya, bus-bus mulai dihadirkan di Jakarta karena adanya Asian Games.

Bus-bus tersebut dikenal dengan nama bus merah yang diperkenalkan melalui Gubernur Soemarno di Jakarta atas instruksi Presiden Soekarno pada tahun 1962.

Tujuan awal dioperasikannya bus adalah untuk kebutuhan transportasi peserta Pesta Olahraga Negara Negara Berkembang atau Games of the New Emerging Forces.

Saat itu di Jakarta, moda transportasi massal baru beralih dari kereta listrik (trem) yang dioperasikan oleh Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD) yang dihentikan tahun 1960, dan bus pertama yang dioperasikan PPD adalah bus Leyland bantuan Australia pada 1956.

Bus Klasik - WordPress.com
Bus merah, cikal bakal metromini

Pada awal operasionalnya belum ada manajemen yang dibentuk untuk mengelola bus-bus tersebut, dan MetroMini dikenal dengan sebutan "bus merah".

Dikutip dari tulisan Balada Bus Kota di Jalanan Jakarta oleh Madina Nusrat dan Irene Sarwidaningrum yang dimuat di Kompas, Senin 29 Februari 2016, bus tersebut berjenis Robur dari Jerman Timur yang memang bentuknya seperti roti tawar.

Setelah pesta olahraga usai bus-bus merah ini tetap beroperasi dan oleh Gubernur Henk Ngantung di tahun 1964, dititipkan pada perusahaan swasta seperti Arion namun tak mampu dikelola dengan baik.

Pada tahun 1976 PT MetroMini didirikan bersamaan dengan Koperasi Angkutan Jakarta (Kopaja) untuk menaungi 152 orang yang mengoperasikan 313 bus mini atas instruksi Gubernur Ali Sadikin.

Pada tahun 1980, bus-bus tua bagaikan roti ini kemudian diperbarui dengan bus-bus Toyota dan Mitsubishi.

Baca Juga: Otojadul: Belajar Nyetir Mobil, Diva Pop Indonesia Titi DJ Jadi Tikus dan Tabrak Pagar Rumah Tetangga

Nah di era 1980-an hingga 1990-an inilah yang jadi masa jaya MetroMini. Tarifnya yang murah dan rata untuk sekali jalan membuat bus ini menjadi andalan. Pada tahun 1982 tercatat tarif Metromini sebesar Rp. 100 per trayek sementara pelajar dikenakan Rp. 25.

Pada April 1996 tercatat tarif naik dari Rp. 300,- menjadi Rp. 400,- untuk umum, sementara pelajar Rp. 100,- harga pelajar ini bertahan sejak tahun 1990 tidak dinaikkan.

Memasuki tahun 2014 tarif menjadi Rp. 4.000 untuk umum dan Rp. 2.000 untuk pelajar dan pada tahun 2016 tarif turun menjadi Rp. 3.800,- kemudian Rp. 3,500,- untuk umum walaupun pada realitasnya di jalanan banyak pengemudi enggan menurunkan tarif.

Selain itu ada yang membuat MetroMini jadi bahan omongan karena kelakuan sopirnya yang kerap ugal-ugalan di jalanan.

Ilustrasi Metro Mini 610

Selain itu sopir pun bodoamat walau bus sudah overload sehingga kerap ditemui penumpang yang naik di atap hingga gelantungan di pintu. Yang penting setoran, Bos!

Kondisi bus juga banyak yang sebetulnya enggak layak dengan seringnya ditemui unit yang kacanya bolong-bolong, panel instrumen yang enggak berfungsi, hingga sumber polusi dengan asapnya yang hitam pekat.

Tapi bagaimanapun juga, MetroMini pada masa jayanya jadi moda transportasi segala kalangan, dari pegawai kantoran dengan kemeja rapi, pedagang, suporter Persija, hingga pelajar yang pulang pergi ke sekolah (termasuk berangkat tawuran), dan masih banyak lagi.

Di era kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), keberadaan MetroMini dan Kopaja mulai tersaingi dengan adanya Transjakarta.

Kaskus
pelajar di atap metromini

Selain itu, Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2014 tentang Transportasi mengamanatkan semua angkutan umum harus diremajakan setelah 10 tahun.

Karena rata-rata MetroMini dan Kopaja berumur di atas 10 tahun maka Ahok yang saat itu jadi gubernur ingin pemilik kendaraan tersebut bergabung di bawah bendera Transjakarta.

Tapi pemilik keberatan karena tak sanggup jika harus membeli armada baru.

Selain itu, Ahok meyakini bus yang beroperasi memang sudah tak laik jalan dan dikendarai ugal-ugalan.

Ahok yang kala itu sudah bersiap untuk perhelatan Asian Games 2018, membuka rute-rute yang dilayani Metro Mini dan Kopaja untuk mematikannya secara perlahan.

Ia bahkan berjanji, saat Asian Games 2018, tak ada lagi MetroMini dan Kopaja jelek.

Fahdi Fahlevi / Tribunnews.com
Pernah ngalamin duduk di atap MetroMini seperti The Jak?

Tapi pada akhirnya pemerintah menoleransi keberadaan MetroMini dan Kopaja. Meskipun begitu permasalah antara bus-bus tersebut sering terjadi dengan Transjakarta.

Ini disebabkan trayeknya diserobot Transjakarta padahal mereka punya izin yang diperpanjang.

Mereka tak sanggup membeli kendaraan baru dan memilih menjual armadanya menjadi rongsokan dan alih usaha.

Ironinya, MetroMini muncul dan berkembang karena adanya Asian Games dan pada akhirnya redup karena Asian Games pula.

Jadi buat pembaca yang kebetulan tinggal di Jakarta pada tahun 1980-1990an pastinya punya deh kenangan dengan MetroMini.

Dicopet, digeber ugal-ugalan, dipalak preman, duduk di atap buat nonton Persija, berangkat tawuran, atau malah bertemu jodoh di MetroMini?