Awalnya Tidak Bisa Diisi Ulang, Berikut Evolusi Baterai Mobil Listrik

Anton Hari Wirawan - Jumat, 23 November 2018 | 16:00 WIB

Ilustrasi baterai lead-acid dengan teknologi zaman dulu (Anton Hari Wirawan - )

GridOto.com  – Awal tahun 1800-an ketika Robert Anderson dan Thomas Davenport menemukan mobil listrik untuk pertama kalinya, teknologi perkembangan baterai belum secanggih zaman sekarang.

Kedua penemu ini menggunakan baterai yang tidak dapat diisi ulang. Artinya, mobil listrik pada zaman dulu masih relatif rumit dan tidak mempermudah mobilitas manusia.

Baru ketika tahun 1865, Gaston Plante dari Prancis menemukan rechargeable lead-acid battery yang membuat mobil listrik dapat diisi ulang, sehingga menjadi lebih praktis dan ekonomis.

Selang beberapa tahun setelahnya, Camille Faure, masih dari Prancis ini menyempurnakan desain baterai yang dapat diisi ulang.

Hal ini turut membuat mobil listrik menjadi semakin aman dan praktis, bahkan mobil listrik sempat populer pada waktu itu.

Baterai mobil listrik alami penyempurnaan

Selain lead-acid battery, baterai nikel logam hibrida (NiMH) juga kerap dipakai pada mobil listrik zaman dulu.  Bahkan General Motor juga menggunakan baterai jenis ini pada EV1 yang diproduksi pada tahun 1973.

Baterai NiMH dianggap punya spesifikasi lebih unggul ketimbang lead-acid battery. Mobil listrik yang mengusung baterai NiMH diklaim jauh lebih ringan, sehingga mengurang energi untuk mendorong mobil.

www.toptenscooters.com
Jenis baterai NiMH lebih praktis dan bisa diisi ulang

Di samping itu, baterai NiMH juga memiliki kepadatan energi yang lebih besar dari lead-acid battery.

Punya kelebihan dan kekurangan

Dibalik kelebihannya, baterai NiMH juga punya kekurangan. Seperti efisiensi pengisian lebih rendah dari jenis baterai lainnya.

Ada juga masalah pengisian daya yang sangat tergantung dari kondisi suhu di sekitarnya. Hal ini pula yang membuat baterai NiMH kurang ideal dipakai di lingkungan iklim tropis.

Hadir sebagai jawaban adalah baterai lithium-ion (Li-ion), yang telah dianggap sebagai standar baterai bagi kendaraan listrik.

Baterai Li-ion punya banyak jenis, dan punya karakteristik berbeda. Tapi produsen kendaraan biasanya memilih baterai dengan usia dan daya tahan paling lama.

Dibandingkan dengan beberapa jenis baterai di era modern, Li-ion punya beberapa keunggulan. Misal ia punya spesifikasi dan kepadatan energi yang baik, sehingga ideal untuk mobil listrik.

Baterai Li-ion juga sangat baik dalam mempertahankan energi. Dengan performa pengisian ulang yang lebih baik dari baterai jenis NiMH.

www.greencarrepots.com
Baterai Li-ion jadi andalan mobil listrik modern

Namun baterai Li-ion juga punya beberapa kelemahan, salah satunya soal harga yang paling mahal dibanding jenis baterai lainnya.

Ada juga isu soal panas berlebih ketika pengisian ulang, yang dapat memicu kebakaran atau ledakan kendaraan.

Apalagi pernah ada kasus pada Tesla Model S yang terbakar karena meningkatnya suhu baterai saat pengisian ulang.

Lebih banyak manfaatnya

Walau demikian, segala upaya telah dilakukan untuk meningkatkan keselamatan bagi mobil listrik yang menggunakan baterai Li-ion.

Terlebih baterai ini tetap menjadi pilihan beberapa produsen mobil listrik, karena kelebihannya yang dirasa lebih banyak ketimbang kekurangannya.

Intinya, baterai telah menjadi bagian penting dalam perkembangan mobil listrik di dunia. Baterai Li-ion tampaknya masih akan mendominasi karena mampu menyimpan dan mengisi ulang daya lebih baik.

Sementara lead-acid battery dan baterai NiMH tak lagi jadi pilihan, meski baterai jenis ini masih kerap dipakai dalam industri otomotif.